Berita Lamandau

Festival Balayah Lanting, Wisata Baru Lamandau Pikat Turis Asing

Konsep wisata alam yang menantang, berpadu dengan kearifan lokal, menjadi daya tarik utama festival tersebut.

Tayang:
Editor: Haryanto
ISTIMEWA
FESTIVAL LANTING - Warga dan touris asing mengikuti Festival Balayah Lanting atau bamboo rafting, Sabtu (29/11/2025) kemarin. 

TRIBUNKALTENG.COM, LAMANDAU – Selain Festival Babukung dan Festival Lampion, Kabupaten Lamandau memiliki agenda tahunan lain yang tak kalah menarik, yakni Festival Balayah Lanting atau bamboo rafting. 

Tahun ini, kegiatan tersebut dikemas dengan nama Delang Hili Ecofest dan digelar pada 28 dan 29 November.

Event ini sukses menarik minat wisatawan lokal hingga mancanegara. 

Konsep wisata alam yang menantang, berpadu dengan kearifan lokal, menjadi daya tarik utama festival tersebut.

Baca juga: Lamandau Bersiap Jadi Kota Industri Kreatif Pertama di Kalimantan Tengah

Pada hari pertama, peserta diajak mengikuti fun trekking menyusuri hutan tropis yang masih alami. 

Usai trekking, pengunjung bermalam di tepian sungai sambil menikmati pertunjukan budaya masyarakat setempat.

Memasuki hari kedua, peserta diajak menyusuri sungai berair jernih dengan aliran berbatu menggunakan rakit bambu. 

Sepanjang perjalanan, pengunjung disuguhi panorama alam eksotis. 

Setiap rakit didampingi joki pemandu berpengalaman serta satu orang pemandu wisata dengan kostum bertema peri hutan, yang menambah kemeriahan acara.

Bupati Lamandau, Rizky Aditya Putra mengatakan, Delang Hili Ecofest merupakan agenda tahunan yang memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata sekaligus penggerak ekonomi lokal.

“Kegiatan ini telah menjadi agenda tahunan yang mampu menarik wisatawan dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Pemerintah daerah tentu akan terus mendorong agar pelaksanaannya semakin baik dari tahun ke tahun,” ujar Rizky.

Ia menjelaskan, rakit bambu dulunya merupakan alat transportasi tradisional masyarakat Dayak untuk mengangkut hasil bumi dari hulu ke hilir sungai. 

Seiring perkembangan zaman, alat transportasi tersebut mulai tergantikan oleh perahu mesin dan jalur darat.

"Namun keseruan menaiki rakit bambu tidak bisa tergantikan. Ini adalah wahana arung jeram versi kearifan lokal yang perlu dilestarikan," tambahnya.

Tercatat, kegiatan ini diikuti oleh sekitar 70 lanting bambu dan berjalan lancar hingga akhir acara.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved