Berita Kotim Kalteng
Anggota DPRD Kotim Usulkan Program MBG ke Sekolah Dihentikan Sementara Selama Ramadan
Anggota Komisi III DPRD Kotim, Syahbana, menyampaikan pandangannya terkait keberlanjutan program tersebut selama bulan puasa untuk dihentikan
Penulis: Herman Antoni Saputra | Editor: Sri Mariati
Ringkasan Berita:
- Ramadan, wacana penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mencuat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
- Anggota Komisi III DPRD Kotim, Syahbana, menyampaikan pandangannya terkait keberlanjutan program tersebut selama bulan puasa.
- Syahbana menilai, meskipun program MBG memiliki tujuan mulia untuk memenuhi kebutuhan gizi siswa, namun dipertimbangkan untuk menghormati menjalankan ibadah puasa.
TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT – Menjelang masuknya bulan suci Ramadan, wacana penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mencuat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Anggota Komisi III DPRD Kotim, Syahbana, menyampaikan pandangannya terkait keberlanjutan program tersebut selama bulan puasa.
Ditemui pada Rabu (3/2/2026) setelah ucai menggelar Musrenbang di Kecamatan Baamang, Syahbana menilai, meskipun program MBG memiliki tujuan mulia untuk memenuhi kebutuhan gizi siswa, pelaksanaannya pada bulan Ramadan perlu dipertimbangkan secara matang, khususnya dari sisi penghormatan terhadap siswa yang menjalankan ibadah puasa.
“Kalau melihat kondisi saat ini, kita berharap pada saat bulan puasa itu, kalau bisa, Program MBG dihentikan dulu sementara. Ini sebagai bentuk penghormatan kepada siswa-siswa yang berpuasa di sekolah,” ujar Syahbana.
Ia menambahkan, pelaksanaan MBG di bulan puasa dikhawatirkan justru mengurangi kekhusyukan siswa dalam menjalankan ibadah.
Terlebih, di tingkat sekolah dasar, banyak orang tua yang mulai melatih anak-anak mereka untuk berpuasa penuh.
“Bagaimanapun, kalau program itu tetap jalan, saya khawatir akan menghambat hikmah dalam menjalankan ibadah puasa. Orang tua juga sudah mengimbau anaknya untuk belajar berpuasa, terutama di tingkat SD,” katanya.
Menurut Syahbana, meskipun terdapat sebagian siswa yang tidak menjalankan puasa, hal tersebut tidak serta-merta menjadi alasan untuk tetap melaksanakan program MBG.
Ia menekankan pentingnya sikap saling menghormati antar siswa.
"Walaupun kita tahu ada siswa SD yang tidak berpuasa, tapi itu bukan berarti program MBG harus tetap berjalan. Justru kita harus menghormati yang menjalankan puasa,” ucapnya.
Selain aspek religius, Syahbana juga menyoroti persoalan teknis jika MBG tetap dilaksanakan.
Ia menyebut, makanan MBG biasanya dikonsumsi pada siang hari, sementara waktu berbuka puasa masih cukup lama.
“Kalau dipaksakan untuk menunggu sampai buka puasa, jeda waktunya bisa sekitar enam jam. Nasi yang sudah dingin saja kadang anak-anak tidak mau makan, apalagi kalau disimpan lama, itu berpotensi basi,” jelasnya.
Ia menilai, alternatif seperti mengganti jenis makanan juga berpotensi menimbulkan masalah baru dan tidak sejalan dengan konsep MBG itu sendiri.
“Kalau diganti dengan makanan lain yang tidak mudah basi, itu juga tidak sejalan lagi dengan konsep MBG. Nantinya malah menimbulkan problem baru,” tambahnya.
| Maraknya Kasus Asusila di Pesantren Jadi Alarm, Ini Kata Bupati Kotim Halikinnor bagi Warganya |
|
|---|
| Meski Harga Sawit Anjlok, Pencurian TBS di Kotim Tetap Marak, Kapolres: Tak Berbanding Lurus |
|
|---|
| Kapolres Kotim Minta Warga Tak Hanya Viralkan Kejahatan di Medsos, Segera Laporkan ke Polisi |
|
|---|
| Pencurian Sawit Masih Mendominasi di Kotim, 78 Tersangka Diamankan Selama Lima Bulan |
|
|---|
| Pemkab Kotim Raih WTP ke-12 Berturut-turut, Bupati Halikinnor: Hasil Kerja Keras Seluruh Jajaran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kalteng/foto/bank/originals/Anggota-Komisi-II-DPRD-Kotimm.jpg)