Feature Tribun Kalteng

Pandangan Epistemologis dari Kampus UMPR: Apakah Sains dan Agama Harus Selalu Berjarak?

Agama dan Sains kerap berbenturan di kepala setiap orang modern yang mencoba menyeimbangkan logika dan keyakinan, Senin (24/11/2025).

Tayang:
Pandangan Epistemologis dari Kampus UMPR: Apakah Sains dan Agama Harus Selalu Berjarak? - Agama-dan-Sains-UMPR-24-November-2025.jpg
Tribunkalteng.com/Yosua
Kegiatan Pengabdian Masyarakat Implementasi Pengembangan Bahan Ajar Ilmu Alamiah Dasar Berbasis Literasi Al-Qur’an untuk Meningkatkan Karakter Ecospiritual Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, Senin (24/11/2025).
Pandangan Epistemologis dari Kampus UMPR: Apakah Sains dan Agama Harus Selalu Berjarak? - Logo-Agama-dan-Sains-UMPR-24-November-2025.jpg
Kecerdasan Buatan AI/Gemini AI
Kegiatan Pengabdian Masyarakat Implementasi Pengembangan Bahan Ajar Ilmu Alamiah Dasar Berbasis Literasi Al-Qur’an untuk Meningkatkan Karakter Ecospiritual Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, Senin (24/11/2025).

TRIBUNKALTENG.COM - Ilmu menuntut bukti yang bisa diukur, agama menuntut iman yang tak bisa diganggu gugat.

Dua cara pandang ini sering berbenturan di kepala setiap orang modern yang mencoba menyeimbangkan logika dan keyakinan. 

Ketika seorang siswa bertanya kenapa hujan turun, guru fisika menjelaskan tentang penguapan dan kondensasi, sementara ustaznya berbicara tentang rahmat dan kuasa Allah.

Baca juga: Mahasiswa Kimia UPR Angkat Kekayaan Alam Kalimantan, Produk Kecantikan dari Jalukap hingga Taya

Keduanya benar tapi kerap terdengar seperti dua bahasa yang tak saling menerjemahkan.
 
Pertanyaan ‘Mengapa semua ini ada?’ menandai saat manusia berhenti hanya melihat, dan mulai memahami.

Dari sinilah lahir cabang filsafat yang disebut epistemologi, cara manusia mengetahui sesuatu itu benar.

Dari Epistemologi itu lahirlah Rasionalisme tentang kebenaran datang dari akal, dan Empirisme soal kebenaran datang dari pengalaman.

Pada zaman sekarang, banyak orang merasa agama tak lagi cukup logis untuk menjelaskan dunia.

Doa terdengar tidak sekuat data, dan kisah mukjizat seolah tak sebanding dengan penjelasan ilmiah yang bisa diuji di laboratorium.

Sains memberi kepastian lewat bukti. Tapi di balik semua pengetahuan itu, manusia tetap gelisah.

Sains bisa menjelaskan dengan rinci bagaimana stres bekerja, tubuh melepaskan hormon kortisol, detak jantung meningkat, tekanan darah naik, dan sistem saraf bersiap menghadapi ancaman.

Semua itu logis, terukur, dan bisa dipetakan lewat grafik di layar monitor. Akan tetapi, penjelasan itu tak selalu membuat kegelisahan menghilang. 

Manusia tahu bagaimana stres terjadi, tapi tidak selalu tahu bagaimana menghilangkan rasa itu. Dari sinilah peran epistemologi menjadi penting.

Ia bukan hanya teori tentang bagaimana manusia mengetahui, tapi juga cara bagaimana pengetahuan bisa memberi makna. 

Sains mengajarkan manusia untuk memahami mekanisme stres, tentang hormon kortisol, saraf yang tegang, dan pikiran yang bekerja terlalu keras.

Tapi agama memberi manusia cara berdoa, bermeditasi, atau sekadar berserah, tubuhnya perlahan menurunkan kadar kortisol, napasnya melambat dan pikirannya menjadi lebih jernih.

Sumber: Tribun Kalteng
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved