RS Siloam Palangka Raya
Edukasi Kesehatan Otak, Siloam Palangka Raya Tekankan Deteksi Dini dan Kesiapan Bedah Saraf
Rumah Sakit Siloam Kota Palangka Raya mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan otak melalui nonton bareng (nobar) di Cinema XXI Duta Mall
Penulis: Muhammad Iqbal Zulkarnain | Editor: Sri Mariati
TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA – Rumah Sakit Siloam Kota Palangka Raya mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan otak melalui kegiatan nonton bareng (nobar) film edukasi yang digelar di Cinema XXI Duta Mall Palangka Raya, Jumat (19/12/2025) malam.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Rumah Sakit Siloam Kota Palangka Raya, untuk menghilangkan stigma dan ketakutan masyarakat terhadap penyakit otak sekaligus memperkenalkan kesiapan layanan bedah saraf yang kini tersedia di Palangka Raya.
Direktur Siloam Hospitals Palangka Raya, dr. Indriyani Wijaya, Sp.An-TI, MPH, FISQua, menegaskan bahwa layanan bedah saraf di Siloam Palangka Raya memiliki standar mutu yang sama dengan rumah sakit Siloam lainnya di Indonesia.
“Siloam Palangka Raya siap melayani pasien bedah saraf. Protokol bedah saraf di Siloam sangat kuat dan diterapkan merata di seluruh unit, termasuk di Palangka Raya,” ujarnya.
Ia menekankan, masyarakat tidak perlu ragu menjalani pemeriksaan maupun penanganan bedah saraf meski berada di daerah.
“Setiap layanan bedah saraf yang bisa dilakukan di Siloam lain, juga bisa dilakukan di tempat kami. Mulai dari skrining, konsultasi, diagnosis, hingga penanganan dan terapi,” jelas dr. Indriyani.
Dari sisi fasilitas, Siloam Palangka Raya telah didukung peralatan diagnostik utama untuk penyakit otak, seperti CT scan dan MRI.
“Alat imaging seperti CT scan dan MRI sudah tersedia. Jika ada kebutuhan khusus, Siloam Group bersifat sinergis. Alat atau tenaga ahli bisa kami datangkan dari unit Siloam lain sesuai kasusnya,” katanya.
Menurut dr. Indriyani, pendekatan utama yang terus didorong adalah pencegahan melalui skrining dini, mengingat gejala penyakit otak sering kali tidak spesifik dan kerap diabaikan.
“Lebih baik kita tahu lebih awal. Kalau memang ada penyakit, bisa ditangani lebih dini. Dan kalau tidak ada, justru itu yang kita harapkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, untuk kesehatan otak, CT scan dan MRI berperan sebagai alat bantu utama dalam skrining, sebagaimana pemeriksaan lain pada organ tubuh yang berbeda.
Edukasi kesehatan otak dalam kegiatan ini dikemas secara ringan dan mudah dipahami melalui pemutaran film yang menampilkan perjalanan edukasi kesehatan otak oleh Prof. Dr. Dr. dr. Eka Julianta Wahjoepramono, Sp.BS (K), PhD, ke berbagai daerah di Indonesia.
“Kami ingin masyarakat awam mengenal kesehatan otak dengan cara yang menarik. Kalau sudah kenal, biasanya tidak takut lagi. Ternyata tidak seseram yang dibayangkan,” kata dr. Indriyani.
Sementara itu, Prof. Eka Julianta Wahjoepramono dalam pesannya mengajak masyarakat Kalimantan Tengah untuk lebih waspada terhadap faktor risiko penyakit otak, terutama yang berkaitan dengan stroke.
“Kalau ketahuan tensi tinggi, gula tinggi, kolesterol tinggi, itu ada obatnya. Jangan menunggu sampai stroke, karena stroke itu bisa mencelakakan diri sendiri dan orang lain,” pesannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kalteng/foto/bank/originals/RS-Siloam-Palangka-Raya-20-Des2025-ok.jpg)