Liga 1 2022

Aksi Panser Biru dan Snex Ini Jadi Alasan Gilbert Agius Pilih PSIS Semarang, Tidak Ada di Malta

Satu faktor yang membuat eks pelatih Timnas Malta Gilbert Agius itu adalah aksi para suporter PSIS Semarang yang tergabung di Panser Biru dan Snex

Tayang:
Editor: Dwi Sudarlan
Instagram @psisfcofficial
Pelatih anyar PSIS Semarang Gilbert Agius (kiri) dam skuad PSIS Semarang (kanan). Gilber Agius mengaku terpesona oleh aksi Panser Biru dan Snex. 

TRIBUNKALTENG.COM - Ternyata ada beberapa faktor yang membuat Gilbert Agius yang semula asing dengan Indonesia apalagi Liga 1 2022, akhirnya bersedia melatih PSIS Semarang.

Salah satu faktor yang membuat eks pelatih Timnas Malta Gilbert Agius itu adalah aksi para suporter PSIS Semarang yang tergabung di Panser Biru dan Snex.

Kok bisa? Aksi seperti apa dari Panser Biru dan Snex yang membuat Gilbert Agius kagum dan terpesona?

Gilbert Agius adalah seorang legenda hidup Timnas Malta.

Baca juga: Misteri Wonderkid PSIS Brandon Absen Lawan Bhayangkara FC Efek Timnas U20 Kehilangan Zanadin Fariz

Baca juga: Kalah dari Bhayangkara, PSIS dan Gilbert Ditaburi Pujian, Wasit Diserang: Next, Habisi Madura United

Baca juga: Data Statistik Hasil Persita vs PSS di Liga 1, Seto Nurdiantoro Bertahan Meski Elang Jawa Keok Lagi

Selama berkarier sebagai pemain sepak bola, dia hanya membela satu klub yakni Valetta.

Di klub elite Liga Malta itu, Gilbert Agius bermain selama 24 tahun sejak 1990.

Setelah pensiun sebagai pemain dia menjadi staf kepelatihan Valletta hingga 2021.

Kemudian menangani Timnas Malta U21 pada 2021-2022 dan menjadi caretaker Timnas Malta pada 2022.

Kini, Gilber Agius telah mendampingi dua laga PSIS Semarang dengan hasil cukup mengecewakan, belum pernah menang.

Sekali imbang 0-0 melawan Persita dan kalah 2-3 dari Bhayangkara FC.

Namun, kekalahan dari Bhayangkara FC dimaklumi karena ada 5 pemain pilar PSIS Semarang Carlos Fortes, Vitinho, Hari Nur Yulianto, Wahyu Prasetyo alias Hulk dan Ridho Syuhada yang absen.

Selain itu gol penentu kemenangan Bhayangkara FC dinilai kontroversial karena terjadi saat ada pemain PSIS Semarang tergeletak di lapangan.

Juga tidak diberikannya penalti untuk PSIS Semarang ketika ada pemain Bhayangkara FC handsball di kotak terlarang.

"Saya merasa terhormat untuk ada di PSIS Semarang. Sebelum ini saya sudah melakukan riset tentang PSIS dan sepak bola Indonesia," kata Gilbert Agius, Rabu (1/3/23).

Salah satu yang membuat dia sangat terpesona adalah gairah suporter di Indonesia terutama Panser Biru dan Snex mendukung PSIS Semarang.

Sumber: Tribun Kalteng
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved