Berita Palangkaraya

10 Tahun Pelihara Owa Kalimantan, Warga Desa Beriwit Murung Raya Serahkan ke BKSDA Kalteng

Primata dilindungi jenis Owa Kalimantan (Hylobates Albibarbis) milik seorang warga Desa Beriwit, Murung Raya, Kalteng diserahkan ke BKSDA Kalteng

Penulis: Ghorby Sugianto | Editor: Sri Mariati
BKSDA Kalteng untuk Tribunkalteng.com
Satwa dilindungi Owa Kalimantan saat diserahkan kepada BKSDA Kalteng. Setelah dipelihara selama 10 tahun oleh warga Desa Beriwit, Murung Raya, Kalteng. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA – Primata dilindungi jenis Owa Kalimantan (Hylobates Albibarbis) milik seorang warga Desa Beriwit, Murung Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng) yang telah dipelihara selama 10 tahun akhirnya diserahkan.

Penyerahan hewan primate tersebut ke Seksi Konservasi Wilayah (SKW) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng, Selasa (19/7/2202) lalu.

Awalnya, satwa tersebut dibeli seharga Rp 500 ribu saat masih bayi oleh warga tersebut. Namun dia tidak tahu jika Owa Kalimantan merupakan jenis satwa dilindungi.

Menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya.

Pasal 21 ayat 2, disebutkan bahwa setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa dilindungi baik dalam keadaan hidup maupun mati.

Bagi yang sengaja melakukan pelanggaran terhadap pasal diatas maka bisa dipidana penjara hingga lima tahun dan denda paling banyak seratus juta rupiah.

Baca juga: Banjir Kobar Ganggu Habitat Orangutan, Mengungsi Lewat Jalan Raya Video Orangutan Kalteng Viral

Baca juga: 4 Orangutan Kembali Dilepasliarkan di TN Bukit Raya Bukit Baka, Perburuan & Konflik Satwa Turun

Sedangkan bagi yang lalai melakukan pelanggaran tersebut dapat dipidana kurungan paling lama satu tahun dan denda paling banyak lima puluh juta rupiah.

"Memang tidak semua orang tahu (mengenai peraturan di atas) makanya edukasi itu perlu. Pesan saya juga jangan memperjualbelikan satwa liar yang dilindungi karena itu ada hukum dan peraturan perundang-undangannya," kata Kepala BKSDA Kalteng Nur Patria, Kamis (21/7/2022).

Menurutnya, memelihara satwa liar yang dilindungi juga akan membahayakan sang pemelihara.

Karena sifat alami satwa tersebut akan perlahan muncul.

Sementara itu, kondisi Owa Kalimantan dikatakan sehat dan mendapatkan kunjungan secara berkala oleh Yayasan Kaleweit di kandang transit.

Baca juga: Sebelum Dilepasliarkan di Taman Nasional Tanjung Puting Kobar, 7 Orangutan Rehabilitasi Tes PCR

Rencananya akan dilepasliarkan ke habitatnya jika sudah memenuhi persyaratan.

Untuk sebaran Owa Kalimantan ini, Nur Patria menilai paling banyak sebaran ada di Kalteng.

Sehingga dia mengimbau kepada masyarakat jika menjumpai atau menemukan satwa itu agar di laporkan, jangan dilukai, dibunuh maupun dipelihara.

Hal itu bertujuan untuk lestarinya satwa-satwa yang dilindungi yang terancam punah dan menjaga keseimbangan alam di Bumi Tambun Bungai. (*)

Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved