Paskah 2022

Dilarang Menginap di Makam Malam Paskah, Umat Kristen Palangkaraya Tetap Datang Bergadang

Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Palangkaraya mengimbau, tidak boleh menginap atau bermalam saat berziarah ke makam umat Kristen saat malam Paskah.

Penulis: Pangkan B | Editor: Fathurahman
tribunkalteng.com/pangkan B
Daniel melakukan ziarah di makam sang ayah saat malam Paskah, di Kuburan Umat Kristen Yusuf Arimatea, Jalan Tjilik Riwut Km 12, Jekan Raya, Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Minggu (17/4/2022) dini hari. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Palangkaraya mengimbau, tidak boleh menginap atau bermalam saat berziarah ke makam umat Kristen saat malam Paskah.

Kemudian diterbitkannya peraturan, berziarah ke makam keluarga hanya dibatasi hingga pukul 22.00 WIB.

Hal tersebut dilakukan karena akan terjadinya kerumunan di tempat pemakaman umum (TPU) Yusuf Arimatea.

Lokasi tepatnya di Jalan Tjilik Riwut Km 12, Jekan Raya, Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Warga, Daniel mengatakan ia berziarah sendirian ke makam bapaknya yang telah meninggal.

Baca juga: Orientasi CPNS Rutan Kapuas, Dokter dan Perawat Diberi Materi PBB Hingga Tata Upacara

Baca juga: Kebakaran 1 Rumah 2 Pintu di Samarinda, 7 Orang Dikabarkan Meninggal dan 1 Anak Kritis

Baca juga: Kasus Terkonfirmasi Covid-19 di Palangkaraya Terus Menurun, 20 Kelurahan Zona Hijau

“Saya berziarah membersihkan makam, berdoa, dan menghidupakan lilin di makam ayah,” jelasnya saat dibincangi Tribunkalteng.com, Sabtu (16/4/2022) malam.

Daniel mengatakan, ia mendatangi makam dari pukul 22.00 WIB dan akan pulang pukul 02.00 WIB, pada Minggu (17/4/2022) dini hari.

Ia pun mengatakan bahwa dirinya mengetahui tidak ada ibadah malam Paskah di kuburan umat Kristen dan tidak boleh menginap.

Mengetahui hal tersebut, Daniel menghabiskan malam Paskahnya dengan begadang di kuburan umat Kristen.

Pada tempat yang sama, Dwi pun mengetahui bahwa adanya imbauan tidak boleh menginap.

“Saya tahu tidak boleh menginap, jadinya saya bersama bapak dan ibu saya hanya begadang saja. Karena pagi harinya ada ibadah Paskah, jadi tidak sampai subuh kami berada di makam,” terang Dwi.

Meski ada larangan menginap, warga masih berdatangan ke makam untuk berziarah hingga dini hari.

Makam yang identik dengan hal yang seram pun terpatahkan, terlihat ribuan lilin yang menyala menghiasi makam.

“Pada hari biasa ya seram kalau ke makam, apa lagi malam-malam. Namun saat malam Paskah, menjadi momen tersendiri dimana seluruh makam diterangi cahaya lilin,” ungkap Dwi.

Ia pun bersantai melewati malam Paskah di makam sang Kakek dan neneknya, dengan membawa speaker dan menyetel lagu.

Tak lupa mereka membawa cemilan dan minuman dingin sebagai bekal saat bersantai kala berziarah di malam paskah. (*)

 

 

Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved