Berita Palangkaraya

Harga Cabai Rawit Meroket Rp 140 Ribu per kilogram, Pasokan Berkurang dan Biaya Angkut Mahal

Harga cabai Rawit terus meroket hingga Rp140 ribu perkilogram dikarenakan baya angkut yang cukup mahal dan pasokan berkurang untuk Palangkaraya

Editor: Sri Mariati
istimewa
Ilustrasi cabai rawit yang harganya pada akhir tahun 2021 ini terus meroket. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA – Harga cabai rawit di pasaran di Kota Palangkaraya hingga saat ini masih melambung tinggi, sehingga sangat dikeluhkan warga dan pelaku usaha makanan.

Berdasarkan laporan data yang diterima Dinas Perdagangan Koperasi UKM dan Perindustrian Kota Palangkaraya, harga cabai rawit per tanggal 27 Desember 2021 kemarin mencapai Rp 140 ribu per kilogram atau naik 17 persen.

“Untuk harga cabai rawit memang masih tinggi di pasaran di Kota Palangkaraya,” ucap Kabid Perdagangan Dinas Perdagangan Koperasi UKM dan Perindustrian Kota Palangkaraya Hardriansyah kepada Tribunkalteng.com, Selasa (28/12/2021).

Meroketnya harga cabai rawit ini dikarenakan pasokan berkurang dari daerah produksi luar Kota Palangkaraya, dari provinsi tetangga, Kalsel.

Ditambah biaya angkut dari luar pulau juga cukup tinggi, karena kebutuhan cabai rawit ini masih bergantung daerah produksi komoditas ini.

Baca juga: Penerimaan Pajak Kota Palangkaraya 2021 Naik Rp 111,8 M, Dua Sektor Ini Penyumbang Terbesar

Baca juga: MTsN 1 Kota Palangkaraya Awal Tahun 2022 Berlakukan Sistem Ganjil Genap Pelaksanaan PTM

Satu kontiner saja biaya angkut cabai rawit luar pulau mencapai Rp 13 juta.

“Dengan permintaan tinggi, pasokan berkurang karena sejumlah daerah penghasil cabai ini banyak yang gagal panen, biaya angkut cukup mahal jadinya harga di pasaran naik,” beber mantan Seketaris Kecamatan Jekan Raya ini.

Diungkapkan Hadriansyah, pasokan berkurang cabai rawit daerah sentra di Kalampangan pun tak mampu untuk memenuhi kebutuhan cabai rawit di Kota Palangkaraya ini.

Selain itu momen hari besar keagamaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) membuat permintaan naik dari biasanya.

“Nataru juga mempengaruhi harga, permintaan banyak stok sedikit otomatis harga juga menjadi naik,” ujarnya.

Sementara itu, tak hanya harga cabai rawit yang naik, telur juga mengalami kenaikan yang cukup dikeluhkan masyarakat.

Baca juga: Wisata KumKum Kota Palangkaraya Ramai Dikunjungi Warga Jelang Pergantian Tahun

“Hal itu juga dikarenakan permintaan yang juga tinggi menjelang Nataru ini,” ucap Hardiansyah.

Sedangkan untuk kenaikan harga minyak goreng memang berlaku seluruh Indonesia. Tak terkecuali di Kota Palangkaraya juga mengalam kenaikan yang cukup besar.

“Hanya saja untuk stok minyak goreng aman hingga akhir tahun nanti, dan tingginya harga ini juga secara nasional,” pungkasnya.

Sementara itu, H Saidah pegadang di Pasar Besar Kota Palangkaraya mengaku tingginya harga cabai rawit ini karena pasokan berkurang.

Otomatis dirinya menjual dengan harga di atas normal seperti biasanya.

"Karena berkurang jumlahnya ditambah biaya angkut lumayan mahal terpaksa harganya saya naikan dari harga normal," katanya. (*)

Sumber: Tribun Kalteng
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved