Breaking News:

Berita Palangkaraya

Kalteng Alami Penurunan di Ekspor Batu Bara dan CPO

BPS Kalteng menyebut sejak Januari 2020 terjadi penurunan nilai ekspor dari US$ 881,37 juta pada Januari-April 2019 menjadi US$ 711,54 juta pada 2020.

BANJARMASINPOST.CO.ID/FATURAHMAN
Saat air Sungai Barito, Kalteng, sedang pasang, tongkang pengangkut batu bara ini leluasa melintasinya. 

Editor: Alpri Widianjono

TRIBUN KALTENG.COM, PALANGKARAYA - Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah merilis, Rabu (3/6/2020),  transaksi perdagangan ekspor mengalami penurunan sebesar 14,38 persen dari US$ 204,14 juta pada Maret 2020 menjadi US$174,79 juta pada April 2020.

Penurunan nilai ekspor disebabkan berkurangnya nilai transaksi ekspor dua komoditas andalan, yakni batu bara dan Crude Palm Oil (CPO) yang selama ini menjadi andalan di Kalimantan Tengah.

"Sejak Januari 2020, terjadi penurunan nilai ekspor sebesar 19,27 persen dari US$ 881,37 juta pada Januari-April 2019 menjadi US$ 711,54 juta pada Januari hingga April 2020." sebut Kepala BPS Kalteng, Yomin Tofri.

Sedangkan di sisi impor, relatif terjadi peningkatan nilai sebesar 11,86 persen dari US$1,94 juta (pada Bulan Maret 2020 menjadi US$ 2,17 juta pada Bulan April 2020.

Ekspor Batubara Primadona Kalteng, Ini Negara Pengimpor Terbesar

BPS Ungkap Bahan Bakar Mineral Masih Jadi Primadona Ekspor Kalteng

"Rendahnya nilai transaksi komoditas impor dan masih cukup tingginya nilai ekspor selama sebulan terakhir, menyebabkan neraca perdagangan dengan seluruh mitra dagang di luar negeri mengalami surplus," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi, Yudo Herlambang, Rabu (3/6/2020), mengungkapkan, ekonomi Kalteng masih bergantung SDA dalam triwulan I tahun 2020.

Hasil perkebunan dan industri kelapa sawit memiliki pangsa kurang lebih 36 persen, serta pertambangan batu bara yang memiliki pangsa kurang lebih 12 persen terhadap perekonomian Kalteng

 "Melambatnya produksi tandan buah sawit (TBS) dan Crude Palm Oil (CPO) pada triwulan I tahun  2020 menjadi penyebab melambatnya kinerja pertanian dan industri pengolahan," ujarnya.

Masih terkonsentrasinya ekonomi Kalteng terhadap SDA, juga nampak dari komposisi modal asing yang masuk pada triwulan I 2020, masih didominasi oleh pertambangan untuk modal asing, dan pertanian / perkebunan kelapa sawit untuk modal domestik.

Wow, Kalteng Targetkan Raup Rp 250 Miliar dari CPO

Tiang Fender Jembatan Kalahien Ambruk, Gubernur Kalteng Siapkan Pergub Soal Angkutan Batu Bara

"Tingginya aliran modal asing ke pertambangan berhubungan dengan komoditas batu bara yang umumnya diproduksi untuk di ekspor ke luar negeri," ujarnya.

Sementara, kepemilikan perkebunan dan industri pengolahan kelapa sawit yang umumnya dimiliki pengusaha domestik menjadi penyebab besarnya andil modal domestik dalam perkebunan kelapa sawit.

Jepang masih menjadi negara mitra dagang tujuan ekspor Kalimantan Tengah, dengan batu bara sebagai komoditas utamanya.

Diikuti Tiongkok dan India yang juga didominasi komoditas batu bara. "Sementara dari sisi komoditas utama, batu bara juga menjadi ekspor utama Kalimantan Tengah dengan pangsa lebih dari 50 persen barang yang di eskpor. Sementara, CPO menjadi komoditas kedua dengan pangsa sekitar 15 persen. Tiongkok menjadi tujuan utama ekspor CPO Kalimantan Tengah," ujarnya. 

(Tribun Kalteng/Faturahman)

Penulis: Fathurahman
Editor: Alpri Widianjono
Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved