Sains

Dosen dan Mahasiswa Ini Ditemukan Alat Penjernih Sungai Tercemar Limbah, Begini Cara Kerjanya

Temuan ilmiah berupa alat pembersih limbah berhasil diciptakan tim akademisi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

Tribun Jateng/ Permata Putra Sejati
Praktik : Ratna Stia Dewi (tengah) bersama dengan sejumlah mahasiswa saat sedang praktik di laboratorium dalam membuat alat pemurni limbah dengan memanfaatkan jamur pada Senin (16/12/2019). 

TRIBUNKALTENG.COM, PURWOKERTO - Temuan ilmiah berupa alat pembersih limbah berhasil diciptakan tim akademisi Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

Uniknya, alat sederhana ini mampu membersihkan limbah baik tekstil ataupun batik dengan memanfaatkan sejumlah jenis jamur.

Salah satunya jenis jamur yang digunakan adalah jamur jenis Aspergilles sp.

Tim itu terdiri dari Dosen Biologi Ratna Stia Dewi, bersama dengan sejumlah mahasiswa yaitu Sakinan Mawaddah Siregar, Dwi Ayu Lutfiani Amalia, Maulana Nur Ardian, Asilah Resty Nurfadilah dan Ramadi Habib Fathurrohim.

Mereka melakukan uji coba di green house dan laboratorium dengan mengambil sampel limbah batik yang berwarna coklat kehitaman di sekitar wilayah Sokaraja Banyumas.

Bawang Dayak Berkhasiat Sembuhkan Beragam Penyakit, Ini Hasil Penelitian Ilmiah

Heboh Jejak Kaki Mungil Diduga Tuyul, Uang Jutaan Rupiah Milik Rusmini Raib

Teror Ular Kobra Kembali Bikin Geger, Kali Ini Masuk Saluran Kamar Mandi Toko Sepatu

Alat pembersih itu berbentuk seperti kincir air, dimana ada 8 baling-baling yang menggerakkan.

"Jamur diletakan di baling-baling, dan diatur bagaimana putarannya. Saat hari ke-5 limbah sudah turun hingga 60 persen, saat hari ke-14 sudah menurun mencapai 93 persen dan limbah menjadi terlihat bening," katanya kepada Tribunjateng.com, Senin (16/12/2019).

Prosesnya menggunakan miselium jamur yang diimobilisasi menggunakan limbah organik.

"Kita menggunakan limbah organik yang ada di alam yang istilahnya termiseliumi atau di ikat dengan miselium."

"Artinya ada limbah organik, lalu di inakulasi dengan jamur supaya limbah organik terikat, kami menyebutnya sebagai membran yang terimobilisasi," katanya.

Alat itu bekerja seperti kincir air, dimana jamur di aplikasikan atau di tempel di setiap baling-baling.

"Lalu selama 14 hari atau 2 minggu jamur diganti dua kali sampai posisi limbah menjadi 93 persen," tambahnya.

Limbah yang digunakan saat uji coba adalah sebanyak 120 liter.

Sementara kebutuhan jamurnya sendiri sekitar 16 gram atau 2 gram di setiap baling-baling.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved