Bisnis dan Ekonomi

Tak Hanya ISPA, Ini Analisis Kerugian Ekonomi Kalteng Akibat Bencana Kabut Asap

Hari kerja pegawai juga mengalami penurunan, karena banyaknya pegawai yang sakit dan tidak masuk karena kabut asap.

Tak Hanya ISPA, Ini Analisis Kerugian Ekonomi Kalteng Akibat Bencana Kabut Asap
tribunkalteng.com/faturahman
ilustrasi - Bandara H Asan Sampit hingga Senin (2/9/2019) sore diselimuti kabut asap dampak kebakaran lahan di Kabupaten Kotim. Upaya pemadaman dilakukam dari darat dan udara menggunakan helikopter Water Boombing. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Bank Indonesia (BI) Palangkaraya, Kalimantan Tengah, memaparkan sejumlah kerugian yang terjadi akibat kabut asap dampak kebakaran lahan dan hutan yang terjadi di Bumi Tambun Bungai, belum lama tadi.

Kebakaran hutan yang terjadi sekitar dua bulan ini, ternyata telah banyak merugikan Kalteng secara ekonomi, cukup banyak usaha masyarakat yang terganggu, bahkan pengaruh kesehatan warga yang menurun akibat sakit ISPA membawa dampak bagi pergerakan ekonomi di Kalteng.

Hari kerja pegawai juga mengalami penurunan, karena banyaknya pegawai yang sakit dan tidak masuk karena kabut asap.

Hal ini menyebabkan terdapat buah matang yang telat untuk dipanen, dan berdampak terhadap turunnya tonase produksi.

Sempat Dialihkan ke Tjilik Riwut, Pesawat Wings Air Akhirnya Mendarat Malam Hari di Bandara Sampit

Detik-detik Cita Citata Dimaki Gila Saat di Istora Senayan, Ini Videonya

Pendaftaran Mulai November, Info CPNS 2019 Jadwal dan Formasinya, Pantau di Sini

Selasa (8/10/2019), kabut asap tidak tampak lagi di Palangkaraya, Sampit maupun kabupaten lainnya di Kalteng, karena hujan alami yang turun dengan intensitas tinggi dan secara terus menerus memadamkan secara total kebakaran lahan gambut di Kalimantan Tengah.

Penerbangan di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, sudah berjalan dengan lancar, karena cuaca cerah, demikian juga Bandara H Asan Sampit.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Tengah, Rihando, mengungkapkan, secara umum tahun 2019, Kalimantan Tengah mengalami kabut asap sejak akhir bulan Juli, namun sempat mereda pada akhir Agustus seiring dengan turunnya hujan, dan kembali meningkat pada awal September.

Kabut asap memberikan pengaruh terhadap sejumlah aktivitas perekonomian Palangkaraya, seperti berkurangnya jam kerja ASN di sejumlah Pemda, berkurangnya aktivitas lalu lintas masyarakat yang terpantau di jalan, berkurangnya aktivitas jual beli, dan terganggunya aktivitas penerbangan pesawat udara.

"Beberapa penerbangan dari dan ke Palangkaraya mengalami keterlambatan, dan pengalihan melalui Banjarmasin, bahkan aktivitas di Bandara Tjilik Riwut sempat nyaris terhenti pada tanggal 15-17 September," ujarnya.

Informasi terhimpun dari PT Angkasa Pura II, Bandara Tjilik Riwut hanya terdapat 2-4 penerbangan dari 24 penerbangan dari dan ke Palangkaraya pada tiga hari tersebut.

"Jika dilihat dari kinerja sektor ekonomi utama Kalimantan Tengah, kabut asap memberikan dampak terhadap produksi dan aktivitas pekerja meskipun masih relatif terbatas," ujarnya.

Berdasarkan informasi dari responden survei Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), terdapat penurunan pengunjung yang datang ke pasar tradisional dan berdampak pada penurunan pendapatan penjual sekitar 20-30%.,

Disamping itu, terjadinya gangguan kabut asap menghambat pendistribusian sejumlah komoditas ke Kota Palangkaraya, dan secara teori hal ini dapat berdampak terhadap
kenaikan harga. (Tribunkalteng.com/ faturahman)

Penulis: Fathurahman
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved