Kajian Islam
Ramadan Sebentar Lagi, Persiapkan Diri Menjemput Lailatul Qadar
Ramadan tinggal menghitung hari. Di bulan mulia ini, ada satu malam yang kehadirannya dirindukan oleh orang beriman, yakni lailatul qadar.
TRIBUNKALTENG.COM - Ramadan tinggal menghitung hari. Di bulan mulia ini, ada satu malam yang kehadirannya dirindukan oleh orang beriman, yakni lailatul qadar.
Lailatul Qadar adalah malam ketetapan dalam bahasa Arab, yang merupakan malam penting yang terjadi pada bulan Ramadan.
Setiap muslim tentu menginginkan malam penuh kemuliaan, Lailatul Qadar. Terlebih, malam ini hanya dijumpai setahun sekali.
• Sebentar Lagi Ramadan, Ini Aturan, Cara, dan Niat untuk Mengganti Utang Puasa dan Fidyah
• Istri Andre Taulany Dilaporkan atas Dugaan Pencemaran Nama Baik, Ini Penjelasan Polda Metro Jaya
• Prabowo Menang di Madina, Bupati Dahlan Nasution Mengundurkan, Ini Kata Mendagri
Ada cara untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar pada Ramadan 1440 H ini.
Di dalam Al Quran digambarkan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan dan juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al Quran.
Dilansir dari nahdlatul ulama online (Nu.or.id) dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dikatakan bahwa kita dianjurkan untuk mencari Lailatul Qadar pada malam ganjil dalam sepuluh terakhir bulan Ramadhan.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ.
Artinya, “Dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil dalam sepuluh terakhir di bulan Ramadhan,” (HR Bukhari).
Untuk mendapatkan Lailatul Qadar memang tidak mudah. Karenanya tidak semua orang bisa mendapatkannya.
Dibutuhkan usaha keras dan tidak kenal lelah untuk selalu meningkatkan intensitas ibadah terutama pada sepuluh akhir di bulan Ramadhan sebagaimana yang dipraktikan Rasulullah SAW. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan hadits riwayat Muslim.
عَنْ الْأَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ
Artinya, “Dari Aswad dari Aisyah ra ia berkata bahwa Nabi saw meningkat amal-ibadah pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan melebihi di waktu yang lain,” (HR Muslim).
Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Rasulullah SAW mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya dan membangungnkan keluarganya.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ-أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ - مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Artinya, “Dari Aisyah RA, ia berkata, bahwa Rasulullah SAW ketika masuk sepuluh terakhir bulan Ramadhan, mengencangkan kain bawahnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya,” (Muttafaq ‘alaih).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kalteng/foto/bank/originals/tribunkalteng-puasa-ramadan_20180516_105234.jpg)