Kabar Kalsel

Datang dari Surabaya demi Nazar ke Tunggul Kuning Bagantung Banjarmasin, Ini Keanehannya

Kelompok orang tadi sempat mengundang keluarga nenek Juwita untuk ikut 'bebacaan' tersebut. Tentunya pihak keluarga bingung untuk apa maksudnya.

Datang dari Surabaya demi Nazar ke Tunggul Kuning Bagantung Banjarmasin, Ini Keanehannya
banjarmasinpost.co.id/salmah
Tunggul Bagantung di Sungai Banyiur Luar, Teluk Tiram, Banjarmasin 

TRIBUNKALTENG.COM, BANJARMASIN - Keberadaan tunggul kuning bagantung memang penuh misteri. Dipasangnya kain kuning dengan melilitkan ke kain tentunya juga ada maksud tertentu.

Kain kuning sudah menjadi tradisi budaya lokal sebagai penanda kekeramatan. Dililitkan di tunggul itu juga dengan maksud lokasi itu berkeramat.

Menurut Nenek Juwita, sudah puluhan tahun tunggul itu dihiasi kain kuning. Beberapa orang yang datang ke tempat itu tidak semuanya mau mengungkapkan maksud memasang kain dan membawa kembang.

"Sebagian besar pengunhung tidak mau memadahkan (menyampaikam) untuk apa kain kuning itu. Bahkan pernah ada yang bawa makanan," terangnya.

Baca: Tunggul Kuning Bagantung Dianggap Keramat, Ternyata Dulu . . .

Ada juga yang aneh, ada orang datang membawa minyak wangi aroma melati dan melumuri tunggul hingga wanginya semerbak.

Tak cukup sekali. Keesokan hari datang lagi orang tersebut dan kembali melakukan hal sama. Begitu pula hari-hari berikutnya.

"Pengakuan orang tadi, ia melumuri minyak wangi ke tunggul karena 'disuruh' orang. Anehnya lagi, itu dia lakukan selama sebulan," ujar nenek Juwita.

Ada juga rombongan suatu keluarga yang mengaku dari Surabaya, mereka mendatangi tunggul sambil membawa makanan di antaranya ayam panggang.

"Suatu hari pernah pula ada sekelompok orang berkunjung ke tunggul dan baca surah Yaasiin," ungkapnya.

Halaman
12
Penulis: Salmah
Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help