Iran vs Amerika

UPDATE Perang Iran vs Amerika Operation Sledgehammer, Langkah Donald Trump

UPDATE Perang Iran vs Amerika, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah menyiapkan nama baru untuk operasi militer.

Tayang:
Editor: Nia Kurniawan
Istimewa/SERAMBINEWS.COM/almayadeen
RUDAL SEJJIL IRAN - Tangkap layar YouTube Al Mayadeen English memperlihatkan rekaman dari latihan militer Iran.UPDATE Perang Iran vs Amerika, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah menyiapkan nama baru untuk operasi militer terhadap Iran a 

TRIBUNKALTENG.COM - UPDATE Perang Iran vs Amerika, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah menyiapkan nama baru untuk operasi militer terhadap Iran apabila gencatan senjata saat ini runtuh dan perang kembali pecah.

Kini Menurut laporan NBC News yang mengutip pejabat Gedung Putih, Pentagon mempertimbangkan penggunaan nama “Operation Sledgehammer” untuk menggantikan “Operation Epic Fury” jika Trump memutuskan melanjutkan operasi tempur besar terhadap Teheran.

Baca juga: Sorot Perang Iran vs Amerika, Trump Bawa Elon Musk ke China Jumpa Xi Jinping

Perubahan nama operasi tersebut dinilai bukan sekadar simbolis, tetapi juga memiliki implikasi politik dan hukum yang signifikan.

Ya, Dengan menggunakan nama baru, pemerintahan Trump disebut dapat berargumen kalau konflik memasuki fase baru, sehingga membuka peluang untuk “me-reset” hitungan 60 hari terkait kewajiban persetujuan perang dari Kongres AS.

Sebelumnya, pemerintahan AS secara resmi mengumumkan berakhirnya “Operation Epic Fury” setelah Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata pada awal April 2026 untuk membuka jalur diplomasi.

Namun, laporan NBC menyebut Pentagon masih terus menggunakan nama operasi tersebut dalam berbagai pembaruan resmi terkait Iran.

“Pada saat itu, pemerintah memberi tahu Kongres bahwa permusuhan dengan Iran telah berakhir. Namun Pentagon tetap menggambarkan konflik dengan Iran sebagai Operation Epic Fury,” tulis NBC.

Sumber pejabat AS mengatakan “Operation Sledgehammer” bukan satu-satunya nama yang sedang dipertimbangkan.

Meski demikian, pembahasan nama baru tersebut dianggap mencerminkan keseriusan pemerintahan Trump dalam mempersiapkan kemungkinan eskalasi ulang perang.

Latar belakang pembahasan ini tidak lepas dari rapuhnya situasi gencatan senjata AS-Iran pasca perang regional yang meletus setelah serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada Februari lalu.

Konflik tersebut memicu serangan balasan Iran ke berbagai negara Teluk, penutupan Selat Hormuz, serta lonjakan harga energi global.

Meski kedua negara sempat menyepakati penghentian permusuhan pada April, ketegangan tetap tinggi.

Trump baru-baru ini menolak proposal terbaru Iran untuk mengakhiri konflik dan menyebut gencatan senjata berada dalam “kondisi kritis.”

Di saat bersamaan, laporan intelijen AS yang bocor ke media juga menyebut Iran masih mempertahankan sebagian besar fasilitas rudal bawah tanahnya, memunculkan kekhawatiran bahwa konflik dapat kembali meningkat sewaktu-waktu.

Isu Iran juga diperkirakan menjadi salah satu agenda penting dalam kunjungan Trump ke China pada 13–14 Mei.

Pertemuan tingkat tinggi antara Trump dan Presiden China Xi Jinping disebut akan diawasi ketat oleh Taiwan, India, dan Iran karena dapat memengaruhi keseimbangan geopolitik global.

Selain perang Iran, kedua negara juga diperkirakan membahas ketegangan terkait kecerdasan buatan, pembatasan ekspor teknologi, mineral tanah jarang, dan Taiwan.

Serangan Balasan

Arab Saudi dilaporkan diam-diam melancarkan serangan udara balasan terhadap Iran pada awal tahun ini.

Hal itu dilakukan setelah kerajaan tersebut berulang kali menjadi sasaran rudal dan drone selama konflik Timur Tengah yang lebih luas.

Informasi itu diungkap dua pejabat Barat dan dua pejabat Iran kepada Reuters.

Jika benar, operasi tersebut menjadi pertama kalinya Arab Saudi diketahui secara langsung menyerang wilayah Iran, menandai perubahan besar dalam pendekatan Riyadh terhadap rival regionalnya itu.

Menurut laporan, serangan dilakukan Angkatan Udara Saudi pada akhir Maret 2026 sebagai aksi balasan atas serangan yang sebelumnya menghantam wilayah Saudi.

“Ini merupakan serangan balasan setelah Saudi diserang,” kata salah satu pejabat Barat dikutip Rabu (13/5/2026).

Reuters menyebut belum dapat memverifikasi secara independen target pasti dari serangan tersebut.

Pemerintah Arab Saudi maupun Iran juga tidak memberikan konfirmasi langsung.

Konflik regional meningkat tajam setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Sejak itu, ketegangan meluas ke kawasan Teluk dengan Iran disebut meluncurkan rudal dan drone ke seluruh negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC), termasuk fasilitas militer, bandara, infrastruktur sipil, dan fasilitas minyak.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran juga sempat mengganggu perdagangan energi global.

Laporan tersebut juga menyebut Uni Emirat Arab diduga ikut melancarkan serangan terhadap Iran, menunjukkan negara-negara Teluk mulai mengambil langkah militer langsung sebagai respons atas serangan Teheran.

Meski demikian, Arab Saudi disebut tetap memilih pendekatan yang lebih hati-hati dibanding UEA.

Riyadh tetap membuka jalur komunikasi diplomatik dengan Teheran guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.

Seorang pejabat senior Saudi menegaskan posisi negaranya tetap mendukung de-eskalasi dan stabilitas kawasan.

“Kami menegaskan kembali posisi konsisten Arab Saudi yang mendorong penurunan ketegangan, pengendalian diri, dan stabilitas kawasan,” ujarnya.

Menurut pejabat Iran dan Barat, Saudi bahkan memberi tahu Teheran terlebih dahulu mengenai serangan tersebut.

Langkah itu kemudian diikuti diplomasi intensif yang menghasilkan kesepahaman informal untuk menurunkan tensi konflik.

Proses de-eskalasi disebut mulai berjalan sebelum Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata lebih luas pada 7 April lalu.

Salah satu pejabat Iran mengatakan kesepahaman itu bertujuan menghentikan permusuhan, melindungi kepentingan bersama, dan mencegah konflik berkembang lebih jauh.

(Tribunkalteng/tribunnews)

Sumber: Tribun Kalteng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved