Kota Cantik

Angka Kemiskinan Palangka Raya Tergolong Rendah, Wawali: Jangan Sampai Ada Warga yang Tertinggal

Tingkat kemiskinan di Kota Palangka Raya tercatat tergolong rendah dibanding sejumlah daerah di Kalteng, berdasarkan data yang dicatat BPS Kalteng

Penulis: Arai Nisari | Editor: Sri Mariati
Tribunkalteng.com/Arai Nisari
RAPAT KOORDINASI - Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini (tengah), menghadiri Rapat Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Kota Palangka Raya Tahun 2025 di Ruang Peteng Karuhei II, Senin (7/7/2025). 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA – Tingkat kemiskinan di Kota Palangka Raya tercatat tergolong rendah dibanding sejumlah daerah lain di Kalimantan Tengah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, persentase penduduk miskin di ibu kota provinsi ini berada di angka 3,52 persen, atau sekitar 10,7 ribu jiwa dari total 310,11 ribu penduduk.

Angka tersebut lebih rendah dibanding rata-rata provinsi yang mencapai 5,11 persen, dan jauh di bawah angka kemiskinan nasional sebesar 9,03 persen.

Meski begitu, Wakil Wali Kota Palangka Raya Achmad Zaini menekankan bahwa capaian ini tidak boleh membuat pemerintah daerah berpuas diri. Ia menilai tantangan pengentasan kemiskinan masih cukup besar, terutama di wilayah pinggiran kota.

“Kita patut bersyukur angka kita tergolong rendah, tapi tetap harus waspada. Jangan sampai ada warga yang tertinggal, terutama yang tinggal di wilayah pinggiran atau pedesaan,” ujar Zaini.

Ia menjelaskan, penduduk dikategorikan miskin jika pengeluaran per kapita per bulan berada di bawah Rp 500 ribu. Untuk itu, upaya pemerintah diarahkan agar warga memiliki penghasilan layak guna memenuhi kebutuhan dasar.

Zaini meminta, seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD)tergabung dalam tim penanggulangan kemiskinan menyusun program yang berdampak langsung.

“Programnya harus betul-betul menyasar penurunan kemiskinan. Dinas UMKM bisa mendorong budaya usaha, sedangkan dinas pendidikan dan kesehatan memastikan layanan dasar menjangkau seluruh lapisan masyarakat,” tegasnya.

Sebagai kota berkembang dan ibu kota provinsi, Palangka Raya disebut menjadi magnet bagi pendatang dari luar daerah. Oleh sebab itu, kata Zaini, perlu strategi antisipatif agar pertumbuhan penduduk tidak memicu peningkatan angka pengangguran.

“Kita harus pantau. Pendatang yang datang harus punya pekerjaan. Kalau tidak bekerja, bisa menambah jumlah warga miskin,” ujarnya.

Menurutnya, peluang kerja di kota ini cukup terbuka, namun kesiapan tenaga kerja lokal masih menjadi pekerjaan rumah. 

Maka dari itu, Pemerintah Kota juga menggencarkan pelatihan agar warga memiliki keterampilan sesuai kebutuhan lapangan kerja.

Zaini optimistis, dengan kolaborasi lintas sektor dan intervensi yang tepat, angka kemiskinan di Palangka Raya bisa terus ditekan dalam beberapa tahun ke depan.

Sumber: Tribun Kalteng
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved