Kotim Habaring Hurung

Kepala BPBD Sebut Helikopter Water Bombing Diperlukan Jika Karhutla di Kotim Meluas

Kepala BPBD Kotawaringin Timur (Kotim) Multazam menyatakan, helikopter water bombing bakal digunakan apabila kasus karhutla di Kotim meluas

Penulis: Herman Antoni Saputra | Editor: Sri Mariati
TRIBUNKALTENG.COM/PANGKAN BANGEL
KARHUTLA - Pemadaman oleh personel gabungan relawan BPBD di lokasi lahan yang terbakar di wilayah Kotim pada Karhutla yang terjadi 2023 lalu. 

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT - Kepala BPBD Kotawaringin Timur (Kotim) Multazam menyatakan, operasi penyiraman air dari udara atau Water Bombing menggunakan helikopter masih menjadi andalan untuk pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalteng, terkhususnya Kotim. 

Namun demikian, di wilayah Kotim sendiri untuk pengadaan peminjaman Helikopter Water Bombing masih belum diajukan.

Hal tersebut dikarenakan belum ada keadaan yang bersifat darurat/urgensi yang terjadi di wilayah setempat. 

"Iya belum, karena ambang batasnya ada di provinsi, BNPB pun pastinya nanti akan melakukan pertimbangan yang matang," kata Kepala BPBD Kotim, Multazam, Rabu (11/5/2025) 

Selain persiapan yang matang, faktor anggaran yang digelontorkan untuk transportasi helikopter tersebut juga tidak sedikit. 

Multazam menjelaskan, ada beberapa pertimbangan yang mengharuskan pemerintah tetap mengandalkan water bombing.

Satu di antaranya seperti sebaran api kebakaran yang sangat luas di suatu wilayah.

Kondisi tersebut membuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan tidak memungkinkan untuk ditangani oleh tim melalui jalur darat.

"Bukan hanya memadamkan termasuk pula untuk pencegahan karhutla kita masih membutuhkannya," bebernya. 

Kondisi cuaca yang dinamis mengarah ke kekeringan juga kerap kali menjadi kendala yang mengharuskan penanganan karhutla harus lewat water bombing.

"Dengan perhitungan yang baik maka metode ini cukup efektif karena dapat menjangkau seluruh luasan dalam waktu yang ringkas dan sangat membantu mengendalikan karhutla," bebernya. 

Kendati demikian, ia menegaskan bahwa water bombing maupun berbagai tindakan lain tidak bisa menjadi solusi permanen terhadap karhutla. 

Terlebih penggunaan helikopter water bombing memiliki ongkos yang besar.

"Justru yang harus diprioritaskan adalah pencegahan melalui peningkatan kapasitas masyarakat yang ada di sekitar wilayah rawan terbakar, karena water bombing yang memiliki ongkos besar,"  tandanya.

Sumber: Tribun Kalteng
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved