Kanwil DJPb Kalteng
Analisis Ekonomi dan Fiskal Kalimantan Tengah 2024
Kalimantan Tengah, sebuah provinsi yang kaya akan sumber daya alam, kini menghadapi berbagai tantangan dan peluang dalam konteks ekonomi dan fiskal.
Analisis Ekonomi dan Fiskal Kalimantan Tengah 2024
Oleh Wawan Juswanto
TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Kalimantan Tengah, sebuah provinsi yang kaya akan sumber daya alam, kini menghadapi berbagai tantangan dan peluang dalam konteks ekonomi dan fiskal. Pertumbuhan ekonomi dan kondisi fiskal menjadi fokus utama untuk memahami tantangan dan dinamika yang terjadi di wilayah ini.
Pada triwulan pertama 2024, ekonomi Kalimantan Tengah mencatat pertumbuhan sebesar 5,01 persen year-on-year (yoy), meskipun mengalami kontraksi sebesar 6,23 persen quarter-to-quarter (qtq). Pertumbuhan ini didorong oleh sektor Pertambangan dan Penggalian yang mencatat kenaikan signifikan sebesar 13,10 persen, serta sektor Administrasi Pemerintahan dan Informasi dan Komunikasi yang masing-masing tumbuh 11,03 persen dan 7,96 persen . Namun, sektor jasa lainnya mengalami kontraksi sebesar 3,18 persen , terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan agen dan biro perjalanan wisata selama musim low season dan bulan Ramadhan.
Rebound yang signifikan dalam sektor pertambangan, terutama batubara, menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi provinsi Kalimatan Tengah. Volume ekspor batubara mencapai 6,83 juta ton pada triwulan pertama 2024, menunjukkan pemulihan yang kuat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun, sektor lain seperti pertanian masih menghadapi tantangan besar. Produksi padi dan kelapa sawit mengalami kontraksi akibat cuaca ekstrem dan fenomena El Nino, yang berdampak negatif terhadap hasil panen dan produksi kedua komoditas tersebut.
Baca juga: Kinerja Perekonomian dan Fiskal Regional Kalimantan Tengah per Maret 2024
Sementara, untuk struktur ekonomi Kalimantan Tengah masih didominasi oleh sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang menyumbang 22,27 % terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) tahun 2023, dan sektor Industri Pengolahan yang menyumbang 16,40 % . Meskipun demikian, kedua sektor ini belum menunjukkan kinerja yang optimal untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah, terutama karena kedua sektor ini sangat rentan akan perubahan cuaca dan kondisi alam yang tidak mendukung.
Dalam konteks fiskal, realisasi pendapatan APBN di Kalimantan Tengah per 30 April 2024 mencapai Rp2.810,9 miliar atau 25,8 persen dari pagu yang ditetapkan. Angka ini mengalami penurunan sebesar 9,8 % dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama disebabkan oleh kontraksi penerimaan pajak dalam negeri sebesar Rp262,9 miliar atau 9,3 % yoy, dengan penurunan terbesar terjadi pada Pajak Penghasilan (PPh) Non-Migas sebesar 19,3 % . Sebaliknya, penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) meningkat sebesar 4,7 %, dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) naik signifikan sebesar 132,6 % yoy, menunjukkan adanya upaya peningkatan di beberapa komponen pajak. Sementara itu, penurunan dalam penerimaan dari Bea Keluar, terutama dari komoditas CPO, menunjukkan tantangan yang harus dihadapi oleh pemerintah daerah dalam menjaga keseimbangan fiskal.
Di sisi belanja, realisasi APBN mencapai Rp8.791,4 miliar atau 29,0 persen dari pagu, tumbuh sebesar 4,0 % yoy. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan belanja pegawai sebesar 15,1 persen dan belanja barang sebesar 44,5 % . Pertumbuhan pengeluaran untuk belanja pegawai dan belanja barang mesti diwaspadai pemerintah daerah karena daya ungkit kedua Belanja ini sangat rendah pada perekonomian dibanding dengan belanja modal.
Realisasi pendapatan APBD Kalimantan Tengah hingga 30 April 2024 mencapai Rp7.841,1 miliar atau 26,3 persen dari pagu, dengan pendapatan terbesar berasal dari dana transfer pemerintah pusat sebesar Rp6.852,9 miliar atau 87,4 persen dari total pendapatan. Realisasi belanja APBD mencapai Rp3.443,8 miliar atau 10,8 persen dari pagu, yang didominasi oleh belanja operasi sebesar 71,7 % . Dukungan dana dari pemerintah pusat melalui Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) menunjukkan komitmen pemerintah pusat dalam mendorong pembangunan di daerah. Namun di lain pihak, masih menunjukkan ketergantungan pemerintah provinsi Kalimantan Tengah pada dana transfer pemerintah pusat dalam artian kemandirian daerah masih rendah.
Inflasi menjadi salah satu isu utama yang perlu diperhatikan. Pada April 2024, tingkat inflasi di Kalimantan Tengah tercatat sebesar 0,73 % month-to-month (mtm) atau 2,99 % yoy, sedikit lebih rendah dibandingkan tingkat inflasi nasional sebesar 3,00 % yoy. Peningkatan inflasi dipicu oleh kenaikan harga komoditas seperti daging ayam ras, angkutan udara, dan emas perhiasan. Pengendalian inflasi menjadi kunci penting untuk menjaga stabilitas ekonomi di wilayah ini.
Kalimantan Tengah juga menunjukkan potensi besar dalam sektor investasi, terutama dalam sektor pertanian. Pabrik penggilingan padi modern di Kabupaten Barito Utara merupakan salah satu proyek strategis yang diharapkan dapat meningkatkan produksi pertanian dan menekan biaya distribusi komoditas utamanya beras, yang pada akhirnya diharapkan dapat mengendalikan inflasi di provinsi Kalimantan Tengah.
Secara keseluruhan, ekonomi Kalimantan Tengah menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang positif meskipun masih dibayangi oleh ketidakpastian global terkait harga komoditas utama seperti Crude Palm Oil (CPO) dan batubara. Pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh sektor pertambangan menunjukkan prospek yang baik, meskipun sektor pertanian masih menghadapi tantangan yang signifikan. Kinerja APBN di Kalimantan Tengah, meskipun mengalami penurunan pendapatan, masih menunjukkan upaya peningkatan pada beberapa komponen pajak dan PNBP. Di sisi lain, belanja pemerintah terus dioptimalkan untuk mendukung pembangunan daerah.
Dalam menghadapi tantangan ini, beberapa rekomendasi perlu dipertimbangkan. Pertama, perlu adanya upaya untuk memperluas basis pendapatan, sehingga ketika terjadi kontraksi pada pendapatan tertentu seperti PPh Pasal 25/29 dan komoditas CPO, dapat ditopang oleh sumber pendapatan lain dari basis yang lebih luas, sektor pariwisata dan industri pengolahan dapat menjadi suatu opsi perluasan ini. Kedua, percepatan pelaksanaan belanja, terutama belanja modal dan belanja barang, harus dilakukan untuk menghindari penumpukan realisasi belanja di akhir tahun anggaran., realisasi belanja modal dan barang diperlukan untuk daya pengungkit pertumbuhan ekonomi Kalimatan Tengah. Ketiga, peningkatan infrastruktur konektivitas dan distribusi logistik antar wilayah harus terus dilakukan untuk menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Terakhir, dukungan terhadap sektor pertanian harus ditingkatkan melalui penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, seperti sentra penggilingan padi terpadu dan upaya penguatan program adaptasi perubahan iklim untuk mengurangi dampak cuaca ekstrem terhadap produksi pertanian mesti segera diinisiasi.
Dengan strategi yang tepat, Kalimantan Tengah memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan menjadi salah satu pilar penting dalam perekonomian nasional dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Peran serta pemerintah pusat dan daerah dalam mengelola sumber daya yang ada, serta kebijakan yang responsif terhadap dinamika ekonomi global, akan menjadi kunci keberhasilan pembangunan di wilayah ini. (*)
* Penulis Wawan Juswanto, Kepala Kantor Wilayah DJPb Provinsi Kalimantan Tengah
** Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kalteng/foto/bank/originals/Wawan-Juswanto-Kepala-Kantor-Wilayah-DJPb-Provinsi-Kalimantan-Tengah.jpg)