Berita Palangkaraya

Dilema Pemukiman Pinggir Sungai Kahayan, Pengamat Sosial: Air dan Kehidupan Tak Bisa Dipisahkan

Pengamat Sosial dari Universitas Palangkaraya, Ulfa menuturkan, jika kebudayaan permukiman di pinggir sungai karena air dan kehidupan tak bisa dipisah

Penulis: Ghorby Sugianto | Editor: Sri Mariati
Tribunkalteng.com/Ghorby Sugianto
Lokasi Rumah ambruk akibat abrasi di bibir Sungai Kahayan, Palangkaraya, Rabu (11/1/2023). 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA – Di Bumi Tambun Bungai Kalimantan Tengah, tak susah menemukan sebuah Pemukiman Warga di bantaran sungai-sungai besar yang menjulang memanjang terutama Sungai Kahayan.

Karena nenek moyang dulu menggantungkan hidup di sana, dari mencari ikan, berdagang hingga untuk makan dan minum.

Namun kini permukiman di bibir Sungai Kahayan menjadi sorotan, karena puluhan rumah di Palangkaraya terdampak longsoran, sebagian rusak dan sebagian ambruk

Seminggu ini BPBD Palangkaraya mencatat, ada dua lokasi Abrasi di Palangkaraya, yaitu di daerah Flamboyan Bawah 16 rumah terdampak, kawasan Jalan Kalimantan terdapat 5 rumah terdampak.

Pengamat Sosial dari Universitas Palangkaraya, Ulfa menuturkan, jika kebudayaan permukiman di pinggir sungai dikarenakan air dan kehidupan tak dapat dipisahkan, karena kebutuhan vital manusia.

Baca juga: Fairid Naparin Sebut Momen Tepat Relokasi Warga Pinggir Sungai Kahayan yang Terdampak Longsor

Baca juga: Bencana Ablasi di Bantaran Sungai Kahayan, Wali Kota Palangkaraya Tetapkan Status Tanggap Darurat

“Karena memang air dan kehidupan dari masyarakat tidak dapat dipisahkan. Nenek moyang dulu kita memang tinggal di bantaran sungai. Namun apakah itu dapat dimaklumi? Dilihat dampak lingkungan,” katanya, Rabu (11/1/2023).

Munculnya permukiman di pinggir-pinggir sungai menurutnya, juga tak terlepas dari keterbatasan akses lahan masyarakat, penawaran harga yang lebih murah menjadikan warga memilih tinggal di sana.

Dia menambahkan, adanya menilai yang harus diperhatikan dalam permukiman di bantaran sungai antara lain, mengenai kekumuhan, rumah berdempet, lingkungan, sampah, kualitas air.

Kebijakan pemerintah mengenai adanya garis sempadan bangunan dengan sungai diperlukan, untuk menghindari resiko bencana abrasi di Palangkaraya.

Baca juga: NEWS VIDEO, Siti Sarah Tetap Bertahan di Sisa Puing Bangunan, Korban Ablasi Sungai Kahayan

Baca juga: Terjadi Longsoran Jalan di Desa Kujau, Kabupaten Tana Tidung Capai Dua Meter

Menanggapi wacana mengenai relokasi, dia berpandangan pemerintah wajib memperhatikan kesejahteraan masyarakat yang direlokasi.

“Bagaimana mereka bias hidup, kalau di tempat baru mereka seperti orang baru lagi. Bisa dibantu secara finansial, ekonomi, bahkan lahan. Jadi tidak hanya imbauan tapi dibiarkan,” tegasnya. (*)

 

 

 

Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved