Berita Palangkaraya

Bahasa Dayak Paku di Kalteng Terancam Punah, Diperlukan Konservasi Segera Untuk Pelestariannya

Bahasa Dayak Paku ada di Bumi Tambun Bungai yang berasal dari Kabupaten Barito Timur Kalimantan Tengah, namun saat ini terancam punah.

Penulis: Ghorby Sugianto | Editor: Fathurahman
Tribunkalteng.com/ Ghorby Sugianto
Masyarakat Dayak Kalteng saat memainkan musik tradisional setempat. Bahasa Dayak Paku ada di Bumi Tambun Bungai yang berasal dari Kabupaten Barito Timur Kalimantan Tengah, saat ini terancam punah. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYABahasa Dayak Paku yang berasal dari Kabupaten Barito Timur Kalimantan Tengah, namun saat ini bahasa dayak terebut terancam punah.

Provinsi Kalimantan Tengah memiliki beragam bahasa daerah, Balai Bahasa setempat mencatat terdapat sedikitnya 22 bahasa dayak yang ada di Bumi Tambun Bungai ini.

Analisis kata dan Istilah dari Balai Bahasa Kalteng, Hery Budhiono menuturkan, saat ini diinformasikan masih terdapat penutur bahasa dayak Paku, mereka adalah kakak beradik, sayangnya bahasa tersebut sudah jarang dituturkan.

“Informasinya masih ada penutur bahasa dayak paku yakni merupakan kakak beradik, jumlahnya sangat terbatas,” jelasnya, Rabu (11/1/2023).

Baca juga: Hari Pahlawan 10 November: Mengenang Tjilik Riwut Pahlawan Nasional dari Warga Adat Dayak Kalteng

Baca juga: Warga Terdampak Abrasi di Bantaran Sungai Kahayan Palangkaraya, Dibuatkan Dapur Umum

Baca juga: Abrasi Rusak Sejumlah Rumah di Bantaran Sungai Kahayan Palangkaraya, 22 Warga Terpaksa Mengungsi

Bahasa Dayak Paku merupakan bahasa yang tergolong berbeda atau nyaris tidak memiliki kemiripan kosa kata dengan bahasa di daerah sekitarnya, seperti Bahasa Maanyan atau Dusun.

Kendala yang dialami tersebut membuat pihaknya masih belum melakukan konservasi bahasa, misalnya membuat kamus bahasa dayak Paku.

Jika masih ada penuturnya pihaknya mendorong agar segera dilakukan konservasi bahasa, pembuatan kamus, dokumentasi tradisi lisan dan tata bahasa untuk menyelamatkan Bahasa Dayak Paku dari kepunahan.

Meski saat ini mayoritas masyarakat Kalteng menggunakan Bahasa Dayak Ngaju, Banjar, Maanyan, Bakumpai dan lainnya, keragaman bahasa perlu dilestarikan dan menjadi tanggung jawab bersama.

Karena dalam satu bahasa mengandung kekayaan budaya, sejarah, kearifan lokal hingga identitas suatu masyarakat.

Banyak cara agar suatu bahasa daerah tidak punah, misalnya menggunakan bahasa tersebut dan mengajarkan ke anak-anak, festival bahasa, hingga menuliskan cerita-cerita menggunakan bahasa daerah.

“Dalam satu bahasa ada nilai-nilai yang sangat dihormati penuturnya. Kalau satu bahasa hilang nilai-nilai kebudayaan akan hilang, kita akan rugi,” pungkasnya. (*)

 


 

Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved