Kotim Habaring Hurung

Sumur Tercemar Akibat Banjir di Kotim, Warga Desa Kabuau Parenggean Kesulitan Dapatkan Air Bersih

Banjir di Kotim, warga yang bermukim di Desa Kabuau Kecamatan Parenggean mengeluhkan air bersih lantaran sumur tercemar akibat banjir.

Penulis: Devita Maulina | Editor: Fathurahman
Tribunkalteng.com/ Devita Maulina
banjir di Kotim, Seorang  warga Desa Kabuau sedang membersihkan sekitar rumahnya dari tumbuhan liar yang terbawa banjir. 

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT - Banjir di Kotim, warga yang bermukim di Desa Kabuau Kecamatan Parenggean mengeluhkan air bersih lantaran sumur tercemar akibat banjir.

Warga Desa Kabuau, Kecamatan Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mengaku mereka sangat kesulitan mendapatkan air bersih saat banjir melanda.

Banjir yang merendam wilayah tersebut mencemari sumur yang menjadi sumber air bersih bagi warga setempat.

Kepala Desa Kabuau, Andi Lala, menuturkan banjir tak hanya mengganggu aktivitas warga tapi juga berdampak pada pemenuhan kebutuhan hidup mereka.

Salah satu dampak yang paling terasa setelah sumur-sumur terendam banjir, sedangkan aliran PDAM belum merata di wilayah tersebut.

Baca juga: Banjir di Kotim, Wabup Irawati Sebut Tanggap Darurat Banjir Berlaku Selama 15 Hari Kedepan

Baca juga: Pencurian di Palangkaraya, Ruko Penjual Perabotan & Studio Foto Dibobol Maling Masih Diselidiki

Baca juga: Banjir di Kotim Sebabkan Balita 1,5 Tahun Cucu Kades Bawan Meninggal Tenggelam di Parit

“Warga kami disini kesulitan air bersih, gara-gara sumur yang terendam banjir,” ucapnya, Selasa (13/9/2022).

Ia melanjutkan, kondisi ini berlangsung dari Senin (5/9/2022) lalu. Banjir naik secara perlahan hingga akhirnya kini mencapai kedalaman 1-1,5 meter dari permukaan jalan.

Banjir melanda 7 RT yang ada di desa tersebut, dari RT 01 sampai RT 07. Sekitar 150 lebih Kepala Keluarga  (KK) yang terdampak banjir diantaranya 35 rumah terendam.

Kondisi paling parah terjadi di RT 01 dengan jumlah yang terdampak sebanyak 65 KK. Karena RT tersebut berada di dataran rendah tepat di bantaran sungai.

Sehingga, walaupun tak ada hujan di lokasi tersebut, jika di wilayah hulu banjir otomatis air akan mengalir dan menyebabkan banjir kiriman di lokasi itu.

“Secara geografis memang RT 1 ini paling rendah, ditambah lokasinya berada di pinggir sungai, makanya terdampak banjir paling parah,” jelasnya.

Untuk membantu masyarakat, pemerintah desa setempat telah mengajukan permohonan bantuan ke perusahaan besar swasta (PBS) yang berada di wilayah tersebut.

Dan hal itu pun direspon baik oleh pbs yang rutin menyalurkan bantuan 1 tanki air bersih setiap sore untuk warga yang membutuhkan.

Kendati demikian, ia berharap pemerintah bisa membantu memberikan solusi jangka panjang untuk mengatasi permasalahan ini.

“Bantuan dari perusahaan ini memang sangat berarti, tapi ini hanya solusi jangka pendek. Kami berharap pemerintah bisa memberikan solusi jangka panjang, agar masyarakat kami disini bisa lebih tenang,” harapnya.

Disamping itu, ia meminta pemerintah mengutamakan bantuan sembako dan obat-obatan bagi warga yang terdampak banjir. Karena itulah yang sangat dibutuhkan warga saat ini, ketimbang tenda pengungsian dan semacamnya.

Baca juga: Banjir di Kotim, Wabup Irawati Sebut Tanggap Darurat Banjir Berlaku Selama 15 Hari Kedepan

Baca juga: Banjir di Kotim Sebabkan Balita 1,5 Tahun Cucu Kades Bawan Meninggal Tenggelam di Parit

Pasalnya, selama banjir mata pencaharian masyarakat setempat terganggu, sehingga kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

“Yang penting sembako dulu lah. Kalau fasilitas mengungsi bisa menggunakan aula desa. Yang penting kebutuhan pokok dulu, karena banjir ini sangat berdampak pada perekonomian warga di sini,” pungkasnya. (*)

 

Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved