Kopi Khas Dayak Kalteng

Lipsus, Proses Olahan Biji Kopi Dayak Kalteng dari Dataran Rendah Pangkoh Pulang Pisau

Lipsus, Erika sudah tiga tahun menggeluti meracik kopi khas suku Dayak Kalteng. Proses olahan kopi dibagi tiga tahapan sebelum menjadi kopi Erikano

Penulis: Ghorby Sugianto | Editor: Sri Mariati
Tribunkalteng.com/Ghorby Sugianto
Erika sedang menunjukan produk racikan kopi usahanya yang dinamai Erikano Kopi Dayak, beberapa hari lalu. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA – Lipsus, Erika sudah tiga tahun menggeluti meracik kopi khas Dayak Kalteng. Melalui tangannya biji kopi menjadi produk kebanggan daerah bahkan buah tangan yang harus dimiliki pelancong jika singgah di Palangkaraya.

Dalam pengerjaan kopi Dayak Erikano, perempuan bertubuh tanggung memakai kacamata ini memperkerjakan 3 orang pegawai. Dari penggilingan, penyangraian, hingga pengemasan.

Di ruangan khusus, di komplek Gereja GSKI Bukit Raya, Palangkaraya, biji kopi diolah. Tahap pertama membersihkan dan memilih biji kopi pilihan.

Tahap kedua mencuci biji kopi hingga benar-benar bersih lalu dijemur di bawah terik matahari. Proses ini agar biji kopi semakin renyah, bersih dan kering.

Selanjutnya, biji kopi tersebut disangrai dengan suhu kepanasan yang telah diatur. Lalu siap untuk digiling. Seterusnya, proses pengemasan, Erika pun tak jarang turun tangan membantu pegawainya.

Memilih biji kopi dari Pangkoh, Pulang Pisau bukan tanpa alasan. Menurutnya kopi dari petani di sana cocok dengan rasa yang diharapkan, Erika pun berani membeli dengan harga cukup tinggi.

Baca juga: Lipsus, Kopi Khas Dayak Erikano Kalteng, Paduan Rempah Warisan Leluhur Bikin Nagih

Baca juga: Ini 7 Manfaat Ampas Kopi bagi Kesehatan dari Angkal Sel Kulit Mati hingga Kurangi Selulit

Baca juga: Narkoba di Kalteng, 8,20 Gram Sabu Diamankan Petugas, Pria Warga Jalan Kopi Selatan Sampit Ditangkap

"Saya sudah berburu biji kopi di Kalteng, yang cocok dari petani Pangkoh, Pulang Pisau. Tidak apa-apa saya membeli dengan harga yang lumayan karena untuk petani agar berkembang juga," jelas Erika.

Pasalnya, perkebunan kopi di Kalteng tak banyak dilirik oleh petani-petani dikarenakan harga biji kopi yang anjlok dibanding hasil perkebunan seperti sawit dan lainnya.

Hal itu membuat lahan-lahan perkebunan kopi beralih menjadi perkebunan sawit, dan harga kopi seolah tak ada harganya. Ditambah kopi-kopi dari luar daerah masuk ke Kalteng.

Namun itu tak membuatnya berkecil hati, justru memompa semangatnya, "Jika daerah lain bisa, kenapa kita tidak bisa yang ditunjang dengan kekayaan alam yang luar biasa ini," bebernya. (*)

Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved