Kopi Khas Dayak Kalteng

Lipsus, Kopi Khas Dayak Erikano Kalteng, Paduan Rempah Warisan Leluhur Bikin Nagih

Lipsus, Erika (48) seorang pendeta mengabdikan diri pelayanan umat terpanggil mengenalkan dan mengembangkan kekayaan lokal Kalteng melalui biji kopi

Penulis: Ghorby Sugianto | Editor: Sri Mariati
Tribunkalteng.com/Ghorby Sugianto
Lipsus, Erika sedang menunjukan produk racikan kopi usahanya yang dinamai Erikano Kopi Dayak, beberapa hari lalu. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA – Lipsus, orang tak akan menyangka di bangunan Gereja yang terletak di Jalan Yos Sudarso, Palangkaraya, Kalimantan Tengah terdapat seorang pendeta peracik Kopi khas Dayak Kalteng.

Bernama Erika (48) seorang pendeta yang mengabdikan diri untuk pelayanan umat, namun terpanggil untuk mengenalkan dan mengembangkan potensi kekayaaan alam lokal Bumi Tambun Bungai Kalimantan Tengah (Kalteng) melalui biji kopi.

Saat ditemui Jurnalis Tribunkalteng.com, perempuan yang memilih tidak menikah ini sedang melakukan aktivitas sehari-hari dengan setelan baju yang sederhana.

Dengan ramah menyambut mempersilahkan duduk, dan meminta izin mengganti bajunya dengan setelan yang rapi, karena hendak diwawancarai.

Ruangan di belakang Gereja GSKI Bukit Raya tersebut tampak rapi, dihiasi dengan berbagai lukisan, bunga, sofa warna hijau dan kursi, dipadu cat dinding warna putih.

Baca juga: Pos Lebaran 2022 Palangkaraya, Sediakan Tim Kesehatan Fasilitas Istirahat Hingga Kopi Bagi Pemudik

Baca juga: Kisah Sopir Bus Antar Daerah di Kalteng, Minum Kopi untuk Stamina Kuat, Pikul Keselamatan Penumpang

Dia pun mulai meceritakan awal mula bergelut dengan biji kopi yang didapat dari petani Pangkoh, Pulang Pisau.

Kopi khas Dayak Kalteng yang mulai tidak popular. Padahal memiliki rasa dan aroma tak kalah dengan Kopi Gayo atau kopi terkenal lainnya.

"Saya melihat kopi Dayak yang mulai ditinggalkan masyarakat lokal, karena banyak produk dari luar mulai masuk, dari situlah saya punya tekad memperkenalkan dan mengembangkan Kopi khas Dayak Kalteng," kata Erika, Senin (12/9/2022).

Tekad bulat itu, diiringi dengan pengalaman Erika waktu kecil. Dia sering menyesap kopi buatan neneknya yang dinilai sangat enak, aromanya pun semerbak segar.

Serta, melihat neneknya meracik kopi dengan cara manual. Memilih biji kopi pilihan, membersihkan, menjemur, hingga penyangraian dipadu dengan rempah yang tumbuh di Kalteng.

Dari sekilo biji kopi, Erika memberanikan diri mengolah biji kopi resep wariasan leluhurnya. Lalu meminta pendapat keluarga dan teman dekatnya tentang rasanya.

Baca juga: Raya Sadianor, Perkenalkan Kopi Rempah-Rempah Khas Katingan Kalimantan Tengah

Ternyata pendapat tentang rasa kopi menuai pujian karena rasanya sangat enak dan memiliki keotentikan.

Erikan pun semakin sumringah dan yakin ditambah kakak rohani meneguhkan apa yang dia usahakan.

Tanggal 19 Agustus 2019, 3 tahun yang lalu Erika datang ke dinas terkait di Kota Palangkaraya, untuk meminta saran dan pendapat terkait kopi olahannya.

Berbagai izin diurusnya, dari nomor induk berusaha, PIRT hingga sertifikasi halal didapatkan dengan brand nama Erikano, yang diambil dari nama Erika sendiri. (*)

Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved