Berita Palangkaraya

Ritual Adat Balian Tantulak Burung Dahiang, Bersihkan Hal Buruk Pembangunan Ikon Bundaran Besar

Prosesi adat Balian Tantulak Burung Dahiang, Ritual adat suku Dayak untuk menghilangkan pengaruh tidak baik dalam suatu pembangunan Bundaran Besar

Penulis: Ghorby Sugianto | Editor: Sri Mariati
ISTIMEWA
Desain Ikon Bundaran Besar Palangkaraya. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Masyarakat Kalimantan Tengah (Kalteng) tidak asing dengan prosesi adat Balian Tantulak Burung Dahiang.

Ritual adat suku Dayak untuk menghilangkan pengaruh tidak baik dalam suatu pembangunan.

Nah, Ikon Bundaran Besar dalam awal pembangunannya juga melakukan prosesi ritual adat tersebut yang dipimpin 5 Basir atau pemuka agama Hindu Kaharingan.

Ketua Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan (MD-AHK) Kota Palangkaraya, Parada L KDR menjelaskan prosesi ritual tersebut dari pembersihan area, dari hal-hal gaib yang tidak baik juga meminta leluhur menjaga.

"Menyiapkan sesajen babi dan ayam, kemudian dilakukan upacara Balian, pembersihan di situ. Hari pertama itu membersihkan area Bundaran Besar dari hal-hal yang tidak baik disingkirkan," ujar Parada, Jumat (9/9/2022).

Menurut kepercayaannya, ritual adat tersebut dalam rangka menghilangkan pengaruh yang tidak baik yang ada di wilayah bundaran besar yang bakal dibangun.

Baca juga: Festival Isen Mulang 2022, Mangenta Masuk Rekor Dunia, 1.043 Orang Berpartisipasi di Bundaran Besar

Baca juga: Sempat Diguyur Hujan Lebat, Lokasi Car Free Day Bundaran Besar Palangkaraya Tetap Dikunjungi

Baca juga: Alokasi APBD Rp 125 Miliar Renovasi Bundaran Besar Palangkaraya, Ini yang Akan Dibangun

"Karena itu kan (Bundaran Besar) sangat lama sejak dulu, ada beberapa kejadian besar. Termasuk peristiwa sebelum kerusuhan dan sesudah kerusuhan," jelasnya.

Selain untuk mengusir hal yang tidak baik, ritual adat itu sebagai bentuk penghargaan terhadap leluhur masyarakat Suku Dayak Kalteng dengan berbagai ragam ritual yang disajikan.

Nantinya monumen bersejarah Bumi Tambun Bungai tersebut akan menampilkan ornamen-ornamen bernuansa kearifan lokal khas Suku Dayak Kalteng.

Pemenang sayembara desain monumen Bundaran Besar Palangkaraya, Stevan Eranio mengatakan, pada desain monumen Bundaran Besar tersebut, dirinya mengusung tema Bundaran Sandya Pastika.

Sandya Pastika berasal dari Bahasa Sansekerta yang bermakna Sandya berarti 'persatuan' dan Pastika berarti 'kristal' (Crystal of Unity). (*)

 

Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved