Kader PDIP Langsung Bela Puan Maharani yang Disindir Tidak Lagi Nangis Saat Harga BBM Naik

Saat itu, Puan Maharani sebagai anggota DPR menangis di ruang sidang sebagai bentuk penolakannya terhadap kebijakan pemerintahan SBY naikkan harga BBM

Editor: Dwi Sudarlan
Istimewa vis Tribunnews.com
Ketua DPR Puan Maharani yang disindir demonstran karena tidak lagi menangis saat harga BBM naik. 

TRIBUNKALTENG.COM, JAKARTA - Ketua DPP PDIP Said Abdullah langsung memberikan pembelaan untuk Puan Maharani yang disindir oleh demonstran karena tidak menangis lagi ketika harga BBM naik.

Sindiran demonstran di depan Gedung DPR, Jakarta, Selasa (6/9/2022) itu mengigatkan peristiwa pada 2008 lalu.

Saat itu, Puan Maharani sebagai anggota DPR menangis di ruang sidang sebagai bentuk penolakannya terhadap kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menaikkan harga BBM.

Reaksi pembelaan pun langsung diperlihatkan Said Abdullah.

Baca juga: Akhir Unjuk Rasa Mahasiswa Kotim Tolak Kenaikan Harga BBM, Waket DPRD Serahkan 3 Rekomendasi

Baca juga: Ketua DPRD Kalteng Wiyatno Temui Massa Demo Tolak Kenaikan Harga BBM, Bakal Salurkan Aspirasi

Baca juga: Kenaikan Harga BBM, Operator SPBU di Sampit Kotim Mengaku Baru Tahu “Kami Pun Kaget”

Dia menegaskan alasan yang membuat sikap Puan Maharani berbeda dalam menyikapi kenaikan harga BBM, dulu dan sekarang.

Yakni, kondisi geopolitik yang sudah jauh berbeda.

"Kondisinya kan berbeda, kondisi hari ini dunia, kita sadar nggak sih kalau ini persoalan geopolitik," kata Said di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (6/9/2022) seperti dikutip dari Kompas.TV.

Menurut dia, sejumlah kondisi yang berbeda tersebut antara lain penolakan Arab Saudi dan negara-negara eksportir minyak menambah alokasi minyak di pasaran, pandemi Covid-19 yang melanda dunia serta perang Ukraina-Rusia.

"Dulu apa sih problematiknya? Sekarang apa? Kan beda, pandemi, minyak hancur sehancur-hancurnya. Tingkat permintaan tinggi, tiba tiba ada perang. Padahal rantai pasok global belum sempurna, goyang semua negara," kata Said.

Ia meminta publik objektif dalam melihat fakta yang ada. Sebab, fakta sekarang tidak bisa disamakan dengan sepuluh tahun lalu.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved