Berita Kotim

Pakai BBM Solar Non Subsidi, Sekum ALFI Kalteng Ini Menegaskan Anggotanya Bekerja Lebih Efisien

Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Kalimantan Tengah (Kalteng) nyatakan kenaikan BBM tak berdampak bagi asosiasi logistik tersebut.

Penulis: Devita Maulina | Editor: Fathurahman
Tribunkalteng.com/ Devita Maulina
Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Kalimantan Tengah (Kalteng) menyatakan kebijakan kenaikan BBM yang digagas pemerintah tak berdampak bagi asosiasi logistik tersebut. Organisasi ini malah menghendaki agar BBM jenis solar non subsidi dicabut, karena selama ini dikuasai para pelangsir, sehingga pihaknya tidak bisa bekerja efisien. 

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT - Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Kalimantan Tengah (Kalteng) nyatakan kenaikan BBM tak berdampak bagi asosiasi logistik tersebut.

Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Kalimantan Tengah (Kalteng) menyambut baik kebijakan kenaikan harga BBM yang diambil pemerintah.

Sekretaris Umum (Sekum) sekaligus Pelaksana Harian Dewan Pengurus Wilayah (DWP) ALFI Kalteng, Budi Hariono, menyebutkan kenaikan harga BBM, khususnya solar, tidak berdampak, selama disparitas harga antara BBM subsidi dan non-subsidi masih cukup tinggi.

Ditambah penyalurannya dinilai belum tepat sasaran membuat kebanyakan sopir angkutan logistik lebih memilih BBM non subsidi, yakni Dexlite, agar pekerjaan lebih efisien.

Baca juga: Kecewa Kontraktor Luar Tak Serius Kerjakan Proyek, Bupati H Halikinnor Gaet Aparat Penegak Hukum

Baca juga: Harga BBM Naik Usaha Travel di Sampit Terdampak, Tiket Naik 20 Persen Pemesan Pilih Batal

Baca juga: Harga Sembako di Palangkaraya Tetap Stabil, Belum Terpengaruh Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak

"Selama disparitas harganya masih tinggi itu tidak ada dampaknya buat kami, khusus angkutan logistik, dan penyalurannya juga belum sesuai sasaran," ujarnya ketika dikonfirmasi, Minggu (4/9/2022).

Untuk ketahui, pada Sabtu (3/9/2022) kemarin, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo secara resmi mengumumkan kenaikan beberapa jenis BBM. Yakni, Pertalite dari Rp 7.650 menjadi Rp 10.000 per liter, Solar dari Rp 5.150 menjadi Rp 6.800 per liter, dan Pertamax dari Rp 12.500 menjadi Rp 14.500 per liter.

Dengan kenaikan harga BBM, khususnya solar, yang dinilai tidak terlalu tinggi dianggap tidak menimbulkan dampak khusus bagi pihaknya.

BBM tersebut masih dimonopoli para pelangsir, sedangkan para supir logistik harus mengantre berjam-jam bahkan hitungan hari untuk mendapat BBM solar.

Oleh sebab itu, selama ini kebanyakan sopir angkutan logistik lebih memilih untuk membeli BBM non subsidi, yakni Dexlite, yang harganya notebene lebih mahal, Rp 18.150 per liter, agar pekerjaan mereka dapat berjalan lancar dan efisien.

"Makanya kemarin kami minta sekalian dihapus saja subsidinya (solar). Karena kenyataannya di lapangan itu tidak mengenai kami. Kami masih harus mengantre lama dan penyaluran melalui organda kemarin juga belum efektif," bebernya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved