Berita Kotim

Jumlah DBD di Kotim Meningkat, 29 Kasus Selama Januari Hingga Agustus 2022, Warga Diimbau Waspada

Dinkes Kotim mencatat kasus DBD terjadi sejak Januari hingga Agustus 2022 meningkat berjumlah 29 kasus. Sementara di 2021 hanya 7 kasus saja

Penulis: Devita Maulina | Editor: Sri Mariati
Dok. Lapas Kelas IIB Sampit untuk Tribunkalteng.com
Kegiatan bersih-bersih di lingkungan Lapas Kelas IIB Sampit melibatkan warga binaan permasyarakatan, petugas lapas, dan tenaga Dinas Kesehatan Kotim. Kegiatan dalam rangka mengantisipasi ancaman penyakit DBD dan malaria di lingkungan lapas, beberapa hari lalu. 

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat dari Januari hingga Agustus 2022 telah ada 29 kasus demam berdarah dengue (DBD) yang dilaporkan.

Jumlah ini mengalami peningkatan yang signifikan dibanding 2021 lalu yang hanya sebanyak 7 kasus saja.

“Sepanjang tahun ini sudah ada 29 kasus DBD, memang peningkatan dibanding tahun sebelumnya kalau tidak salah hanya 7 kasus,” kata Kepala Dinkes Kotim Umar Kaderi, Kamis (1/9/2022).

Umar menyebutkan, peningkatan kasus DBD ini tak hanya terjadi di Kotim tapi juga daerah lainnya di Indonesia. Bahkan, rata-rata kasus DBD di Pulau Jawa telah mencapai ratusan sepanjang 2022 ini.

Menurutnya, hal ini berhubungan dengan perubahan pola hidup dan perilaku masyarakat. Pada tahun 2021 lalu, masyarakat Indonesia masih sangat dibayangi dengan adanya pandemi Covid-19.

Baca juga: Cegah Penyakit DBD dan Malaria, Pengelola Lapas Sampit Gelar Gerakan Berantas Nyamuk & Fogging

Sejalan dengan itu, perhatian masyarakat terhadap kesehatan juga meningkat dan masyarakat umumnya mengurangi kegiatan di luar rumah guna menghindari paparan Covid-19.

“Dengan begitu potensi untuk terserang penyakit juga lebih rendah, tidak hanya Covid-19 tapi juga berbagai penyakit lainnya,” imbuhnya.

Namun, seiring melandainya kasus Covid-19 pada 2022 ini, masyarakat kembali mendapatkan kebebasan untuk beraktivitas di luar rumah, dan kewaspadaan masyarakat terhadap serangan penyakit pun menurun.

Sehingga tak heran, terjadi peningkatan kasus penyakit, salah satunya DBD.

Kendati demikian, Dinkes Kotim terus berupaya untuk menekan kasus DBD di Bumi Habaring Hurung ini.

Diantaranya dengan menggalakkan 3M, yaitu menguras atau membersihkan tempat penampung air atau vas buang, menutup tempat penampungan air, dan mengubur barang-barang bekas yang bisa digenangi air.

Untuk, menghindari perkembang biakan nyamuk Aedes aegypti, penyebab penyakit tersebut.

Pihaknya juga rutin melakukan penyemprotan insektisida atau fogging setiap ada laporan warga yang terserang DBD. Fogging dilakukan di sekitar wilayah terkonfirmasi DBD agar tidak menjangkit ke warga lainnya.

Baca juga: Inilah Rentang Usia Anak yang Paling Banyak Terinfeksi DBD dan Meninggal Dunia

Baca juga: Berantas Perjudian di Kotim, Kurang Dari Dua Minggu Petugas Polres Kotim Tangani 9 Kasus Judi

“Dan satu hal lagi yang terus kami galakan adalah agar masyarakat menerapkan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat), karena dengan begitu akan lebih efektif dalam mencegah berbagai penyakit,” ujarnya.

Ia menambahkan, dari statistik per bulan intensitas kasus DBD tertinggi terjadi dari Januari ke Februari, yakni terdapat 9 kasus. Sedangkan pada bulan lainnya jumlah kasus rata-rata hanya 1-2 kasus. Dengan rentang usia merata, baik tua maupun muda dapat terserang DBD.

Kondisi ini kemungkinan dipicu musim hujan yang melanda Kotim kala itu. Biasanya, pada musim hujan tingkat kerawanan DBD bertambah.

Karena hujan membuat banyak genangan yang dapat menjadi sarang dan tempat berkembangbiak nyamuk. (*)

Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved