Berdasar Hitungan, Sri Mulyani Sebut Harga Pertalite Harusnya Rp 14.450, Belum Dinaikkan Minggu Ini

Ditegaskan pula oleh Sri Mulyani, pengguna bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite saat ini mendapatkan subsidi sebanyak Rp 6.800 per liter

Editor: Dwi Sudarlan
Tribunnews.com/Rina Ayu
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut Harga Pertalite saat in jauh dari harga keekonomian bahkan subsidi pemerintah lebih banyak dinikmati orang kaya. 

TRIBUNKALTENG.COM, JAKARTA - Dipastikan pemerintah belum menaikkan Harga Pertalite minggu ini, sementara bila disesuaikan dengan harga minyak dunia saat ini, maka Harga Pertalite seharusnya Rp 14.450 per liter.

Besaran Harga Pertalite disesuikan dengan harga minyak dunia saat ini diungkapkan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (26/8/2022).

Ditegaskan pula oleh Sri Mulyani, pengguna bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite saat ini mendapatkan subsidi dari pemerintah sebanyak Rp 6.800 per liter

Karena itu, dia mengatakan Harga Pertalite Rp 7.650 yang berlaku sekarang, jauh di bawah harga keekonomian.

Baca juga: Harga Pertalite Naik Jadi Rp 10.000 per Liter, Benarkah? Tidak Bantah, Pertamina Sebut Tunggu Arahan

Baca juga: Rencana Kenaikan BBM Bagi Pengamat UPR, Tidak Akan Mempengaruhi Pemulihan Ekonomi

Baca juga: PMII Kalteng Tolak Kenaikan BBM Subsidi, Siap Turun ke Jalan Kawal Kepentingan Rakyat

"Kalau hitungan minyak dunia 105 dolar AS dan kurs Rp 14.700 per dolar AS, maka harga Pertalite harusnya di Rp 14.450 per liter," kata Sri Mulyani.

Tak hanya pertalite,  harga BBM bersubsidi jenis Solar juga  tidak sesuai harga keekonomian.

"Harga solar hanya 37 persen dari harga keekonomian. Kalau menggunakan hitungan dolar AS di Rp 14.700 dan harga minyak 105 dolar AS, harusnya harga Solar Rp 13.950 per liter," ujarnya.

Karena itu, pengguna Solar mendapatkan subsidi 63 persen dari harga keekonomian atau sebesar Rp 8.800 per liter.

Seperti diberitakan, pemerintah tengah mempertimbangkan penyesuaian harga BBM bersubsidi karena harga minyak dunia mengalami fluktuasi dan berada di level yang cukup tinggi.

Hal itu ditambah kuota BBM subsidi yang disalurkan Pertamina kian tipis.

Hal tersebut berdampak kepada anggaran subsidi energi, khususnya BBM yang meningkat tajam, dan berpotensi rawan jebol.

Terkait polemik wacana naiknya harga BBM subsidi ini, Sri Mulyani mengungkapkan sebagian besar anggaran subsidi BBM jenis Pertalite dan Solar dinikmati oleh orang kaya.

Dari anggaran subsidi dan kompensasi energi yang ditetapkan sebesar Rp 502,4 triliun, mencakup alokasi untuk pertalite sebesar Rp 93 triliun dan alokasi untuk Solar sebesar Rp 143 triliun.

Sayangnya, anggaran Pertalite dan Solar itu malah lebih banyak dinikmati oleh orang kaya.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved