Berita Palangkaraya

Yoga Tekuni Batik Tulis dan Cap Khas Dayak Kalteng, Setahun Produksi 2 Ribu Lembar Kain

Yoga Rustaman (39) seorang pria kelahiran Palangkaraya, Kalteng ejak 2017 lalu tekun menggeluti Batik Tulis dan batik Cap khas Dayak Kalteng

Penulis: Ghorby Sugianto | Editor: Sri Mariati
Tribunkalteng.com/Ghorby Sugianto
Yoga Rustaman bersama karya kain batik tulis dan batik cap di Festival Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Pariwisata Pesona Tambun Bungai 2022, Palangkaraya. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA – Yoga Rustaman (39) seorang pria kelahiran Palangkaraya, Kalimantan Tengah sejak 2017 lalu tekun menggeluti Batik Tulis dan batik Cap khas Dayak Kalteng hingga saat ini. Melalui brand Batik Mata Andau.

Meski usianya yang relatif muda, dia bersama istrinya merintis usaha tersebut. Bisa dibilang pemuda satu ini mengawali usahanya dengan kenekatan. Karena berawal dari himpitan ekonomi serta tak mempunyai background membatik.

"Awalnya dari himpitan ekonomi, untuk beli susu anak. Bahkan saya harus mengetuk pintu orang untuk belajar batik dari orang," kata Yoga Rustaman kepada Tribunkalteng.com, Kamis (4/8/2022).

Dalam proses belajarnya itu, bapak dua anak itu mengisahkan kerap bertemu dengan orang-orang baik, rela mengajarinya dengan gratis. Pernah pula ditawari menginap untuk belajar Batik Tulis.

Tak hanya itu, menurutnya di Kalteng sendiri tak banyak yang menggeluti Batik Tulis dan cap. Rata-rata batik printing.

Sehingga membuatnya semakin yakin memulai usaha berbasis kerarifan lokal itu.

Baca juga: Festival UMKM dan Pariwisata Pesona Tambun Bungai 2022 Guna Memperkenalkan Benang Bintik

"Kami ada batik tulis, batik cap dan ada juga batik dengan teknik malam dingin. 100 persen asli. Di mana dari batik asli ini dapat menghidupi setidaknya 7 Kartu Keluaga karena membuat batik membutuhkan proses," ungkapnya.

Proses yang begitu kompleks membuat batik, membuat Yoga Rustaman memperkerjakan sekitar 7 Kartu Keluarga. Dari pembuatan motif, mewarnai, hingga penjemuran semua melibatkan sumber daya manusia.

Satu kain batik dibandrolnya dari harga Rp 200 ribu hingga jutaan rupiah. Tergantung rumit dan lamanya proses pembuatan.

Seperti kain batik yang bermotif Burung Tingang menukik, dibalut warna orange, hitam, biru dan kuning yang membutuhkan waktu 1 bulan pengerjaan dipatok jutaan rupiah, sebanding dengan proses dan hasil.

"Orang Dayak khususnya Dayak Ngaju, sepengetahuan saya untuk motif itu dari sekitar. Seperti fauna dan flora. Apa yang dilihatnya sehari-hari. Untuk filosofi atau makna setelah dibuat direnungkan dulu karena abstrak," bebernya.

Baca juga: Bupati Kapuas Tutup Kegiatan Lomba Benang Bintik Sekaligus Bagi Hadiah untuk Para Pemenang

Pria yang sempat mengenyam pendidikan di Malang dan Bandung dan saat ini tinggal di Cirebon itu memiliki siasat menekan cost produksi, salah satunya pembuatan dilakukan di Jawa.

Karena dari SDM dan bahan semua tersedia. Sehingga jika dibanding dengan batik di Jawa, dia siap untuk bersaing harga karena hanya selisih puluhan ribu saja.

"Namun kami ada rencana membuka produksi di Palangkaraya, Kalteng. Karena pesanan juga terus meningkat disini," jelasnya.

Usaha ternyata membuahkan hasil. Saat pagebluk Covid-19 melanda penjuru negeri, usahanya makin moncer ketika pengusaha batik lainnya banyak yang tiarap.

Baca juga: Hari Batik Nasional, Makna Motif Batik Benang Bintik Khas Kalteng Balanga dan Kantong Semar

Pesanan silih berganti, dari Sulawesi, Merauke hingga mendapat kepercayaan dari Bank Kalteng memesan kain batiknya sebanyak ratusan untuk seragam selama 2 tahun berturut-turut.

"Pesanan paling banyak ada kepercayaan membuat seragam dari Bank Kalteng. Tahun 2020, 2021, 2022 itu per tahunannya kami ada produksi 2 ribu lembar," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved