Berita Palangkaraya

Paparan Pornografi Rentan Timbulkan Pelaku dan Korban Kejahatan Asusila Terhadap Anak

Kasi Tindak Lanjut UPT PPA, Dinas P3APPKB Provinsi Kalteng sekaligus seorang Psikolog, Rensi menuturkan, jika paparan pornografi turut memantik kasus

Penulis: Ghorby Sugianto | Editor: Sri Mariati
Screenshoot Fb Tribunkalteng.com
Kasi Tindak Lanjut UPT PPA, Dinas P3APPKB Provinsi Kalteng sekaligus seorang Psikolog, Rensi pada Podcast Ruang Tamu Tribun Kalteng, Kamis (4/8/2022) 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Kasus tindak pidana kekerasan hingga pelecehan seksual atau asusila terhadap Anak di bawah umur akhir-akhir ini marak di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng).

Pelakunya pun beragam mulai dari guru agama hingga bapak tiri tega melakukan hal bejat itu.

Menurut Kasi Tindak Lanjut UPT PPA, Dinas P3APPKB Provinsi Kalteng sekaligus seorang Psikolog, Rensi menuturkan, jika paparan pornografi turut memantik adanya pelaku dan korban asusila kepada Anak di bawah umur.

"Memang paparan pornografi ini kan bisa di media sosial dan lainnya. Dari kasus yang pernah kita tangani rentan menimbulkan pelaku dan korban," kata Rensi saat dibincangi di program Podcast Ruang Tamu Tribun Kalteng, Kamis (4/8/2022).

Baca juga: Anggota Polres Malinau Tangkap Pelaku Asusila Anak di Bawah Umur, Ayah Diduga Rudapaksa Anak Tiri

Menurutnya, pelaku kejahatan asusila kepada anak rata-rata dikenal dari korban. Seperti pelaku pernah berkunjung ke rumah korban hingga bersinggungan dalam kehidupan sehari-hari.

Disinggung mengenai kenaikan atau penurunan kasus asusila, Rensi menjelaskan, jika akumulasi kasus tersebut tidak sesederhana itu. Karena bisa jadi masih banyak masyarakat yang belum lapor atau sudah teredukasinya masyarakat.

Baca juga: Pemuda di Tanjung Limau Bontang Tega Melakukan Tindak Asusila Pada Anak di Bawah Umur

Baca juga: Kurun Waktu 7 Bulan, 9 Kasus Asusila Anak Bawah Umur Terjadi di Kota Palangkaraya

Namun dia membeberkan dari kasus yang ditangani, rata-rata korban usia memasuki remaja.

Modusnya pun variatif, ada yang melalui penyalahgunaan media sosial hingga kebutuhan psikologis remaja mengenai kurangnya kasih sayang.

"Modus yang digunakan di remaja bisa dari penyalahgunaan media sosial, pemenuhan kebutuhan secara psikologis, butuh perhatian belum merasakan dicintai atau disayangi," ungkap Rensi.

Berbeda dengan kasus asusila menyasar anak, modusnya bisa melalui diajak bermain boneka dan seterusnya sesuai umur.

Sehingga perlu adanya peran orang tua untuk mendampingi. Orangtua pun ketika melihat perubahan-perubahan yang dialami anak, misalnya pulang langsung ke kamar, diharapkan memberikan kepedulian terhadap anak.

"Peran orang tua sangatlah penting. Ketika melihat perubahan anak, orang tua harus memberikan perhatian. Dan jangan takut lapor jika terjadi asusila atau bullying terhadap anak," tegasnya.  (*)

 

Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved