Berita Palangkaraya

Jurnalis Kompas Aldo Sallis Luncur Buku 'Kinipan Suara Dari Bawah’ “Saya Bercerita Tapi Bukan Fiksi”

Aldo Sallis Jurnalis Media Harian Kompas satu ini terinspirasi untuk menulis tentang Kinipan, maka terbitlah buku berjudul ‘Kinipan Suara Dari Bawah’

Penulis: Ghorby Sugianto | Editor: Sri Mariati
Tribunkalteng.com/Ghorby Sugianto
Jurnalis Kompas Aldo Sallis luncurkan buku Kinipan Suara Dari Bawah di Caffe Cengkrama, Palangkaraya (31/7/2022). 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA – Berbicara Kinipan tentu publik mengingatnya dengan sejumlah konflik permasalahan yang kompleks di dalamnya, terutama Masyarakat Kinipan itu sendiri.

Sering menulis berita tentang Kinipan, baik tentang konflik maupun kearifan lokalnya membuat Aldo Sallis, Jurnalis Media Harian Kompas satu ini terinspirasi untuk menulis tentang Kinipan secara global, walaupun tidak secara detail.

Melihat sisi dari kearifan lokal yang dimiliki dan dipertahankan Masyarakat Kinipan sejak beratus-ratus tahun lalu hingga saat ini.

Terbukti pria berdarah campuran Flores NTT-Jawa inipun meluncurkan buku pertamannya berjudul ‘Kinipan Suara Dari Bawah’ bertempat di Caffe Cengkrama, Kota Palangkaraya, Minggu (31/7/2022) sore.

Buku berjumlah 149 halaman yang memiliki cover ilustrasi gambaran Masyarakat Kinipan, tentang kekayaan alamnya dan pangan, budaya hingga simbol arsitektur rumah lokal.

Baca juga: Launching Film Perempuan Penjaga Kinipan, KLHK Terbitkan Surat Pencadangan Hutan Adat 6.825 Hektare

"Kalau selama ini saya cuman dikasih tahu. Secara teori hutan adalah sumber kehidupan orang Dayak. Tapi ini saya lihat langsung. Coba saya berupaya untuk menceritakan," kata Aldo Sallis.

Buku tersebut terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama memiliki sub judul ayam putih, saudagar dari Sumatera, batang garing, berayah, monjatak.

Bagian kedua terdapat sub judul, santap malam, jengkol kubung, masak bambu, punah, pencari gurih, gilir balik, sapur yang buta, penyeragaman pangan, doa ongah.

Selanjutnya, bagian 3 buku itu, dia mengupayakan menceritakan konflik masyarkat Laman Kinipan, Lamandau, Kalimantan Tengah.

Dengan sub judul, ditangkap diseret, perintah penguasa, apa yang salah dari menolak, dan jalan pulang.

"Saya mencoba menceritakan perjalanan konflik. Mungkin tidak terlalu detail, menjelaskan siapa-siapa aktornya. Karena tujuan buku ini bercerita tapi bukan fiksi," ungkapnya.

Baca juga: Massa Aksi Gelar Ritual & Pemberian Obat Tolak Angin, Minta Keadilan untuk Terdakwa Kades Kinipan

Dalam proses penulisan buku ‘Kinipan Suara Dari Bawah’ bapak satu anak inipun menulis isi 98 persen olehnya. Selebihnya Aldo Sallis dibantu dengan rekannya. Seperti sub judul doa ongah dan tentang sejarah.

"Kinipan itu identitas. Menunjukan bahwa sudah ratusan tahun lamanya di ada di sana, jauh dari negara ini ada," jelasnya.

Sementara itu, Aldo Sallis mencicil menulis buku ini sejak dari tahun 2017-2018 hingga saat ini buku itu dipersembahkan dan telah terbit.

Ternyata tak berhenti di situ, buku itu didiskusikan dan ditanggapi oleh peneliti lingkungan dan sosial, Alma Adventa, Ketua Komunitas Adat Laman Kinipan Effendi Buhing, hingga penulis, Kusni Sulang.

Baca juga: Ini 8 Poin Tuntutan JPU Kejari Lamandau Terhadap Terdakwa Kades Kinipan Wilem Hengki

Pada peluncuran buku ‘Kinipan Suara Dari Bawah’ tersebutpun juga dihadiri sejumlah undangan melalui daring, dari Palangkaraya maupun luar Kalimantan Tengah, (Kalteng).

Menanggapi itu, Effendi Buhing mengungkapkan rasa terimakasih telah menerbitkan buku tentang Kinipan. Karena telah menguatkan dan memotivasi untuk mereka berjuang.

"Bahwa adanya terbit buku Kinipan, semakin menguatkan dan memotivasi kami untuk terus berjuang. Tentang pengakuan masyarakat adat yang sampai hari ini belum kami peroleh," tegas Effendi Buhing. (*)

Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved