Sidang 'Jin Buang Anak', Edy Mulyadi Tetap Ngotot Tidak Bersalah, Sebut Dakwaan Jaksa Hanya Pesanan

Sikap merasa tidak bersalah terus diperlihatkan terdakwa kasus ujaran kebencian 'jin buang anak', Edy Mulyadi

Editor: Dwi Sudarlan
Kompas.com/Tatang Guritno
Edy Mulyadi, terdakwa kasus dugaan ujaran kebencian 'jin buang anak' yang terus merasa tidak bersalah. 

TRIBUNKALTENG.COM, JAKARTA - Sikap merasa tidak bersalah terus diperlihatkan terdakwa kasus ujaran kebencian 'jin buang anak', Edy Mulyadi.

Bahkan, dalam sidang lanjutan di PN Jakarta Pusat, Selasa (14/6/2022), Edy Mulyadi menuding dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) soal ujaran kebencian 'jin buang anak' adalah pesanan oligarki untuk menjerat dirinya.

Agenda sidang kasus dugaan ujaran kebencian 'jin buang anak' dengan terdakwa Edy Mulyadi hari ini adalah agenda saksi pelapor. 

Kepada pers seusai sidang, Edy Mulyadi yang pernah menjadi caleg dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mempermasalahkan pernyataan pelapor yang hanya berkutat pada ucapan 'jin buang anak' bukan IKN (Ibu Kota Negara). 

"Yang dipersoalkan yang membuat mereka marah itu adalah kalimat tempat jin buang anak. Terkait dengan itu maka semestinya dakwaan jaksa yang menampilkan enam video saya yang sama sekali tidak berbicara tempat jin buang anak itu tidak relevan," kata dia. 

Baca juga: Majelis Adat Dayak Kawal Sidang Jin Buang Anak Edy Mulyadi: Kami Maafkan Tapi Hukum Berat Dia

Baca juga: Sidang Jin Buang Anak Dimulai, Edy Mulyadi Minta Maaf dan Diajak Foto Bareng di Ruang Sidang

Baca juga: Kecewa Pernyataan Edy Mulyadi, Dosen UPR Gunarjo S Budi 2 Hari Ciptakan Lagu ‘Jin Buang Anak’

Edy Mulyadi menegaskan ucapannya bukan tidak berdasar.

Dalam persidangan pun, saksi pelapor disebutnya tidak pernah mempersoalkan terkait banyaknya lubang di sana akibat galian tambang perusahaan.

"Yang ketiga ketika bang Ahmad Yani (salah satu kuasa hukum) bertanya apakah saudara tahu ada lubang lubang bekas tambang dia jawab tahu, apakah saudara pernah melakukan demo terhadap perusahaan-perusahaan yang membuat lubang bekas tambang dia jawab tidak," ucap Edy Mulyadi.

Dia juga mengkritisi jeratan pasal yang banyak yang diterapkan kepadanya.

Edy mengibaratkan jeratan pasal itu sebagai pemancing yang menggunakan banyak alat pancing agar ada salah satunya bisa menjerat.

"Tapi kalau melihat dakwaan 313 halaman, dengan lampiran 995 halaman yang total semuanya 1.313 halaman, ini bisa ga bisa anda tahu disitu ada 5-6 pasal. Kalau kita suka mancing, bawa joran itu bawa 7 joran, supaya kalau yang satu ga dapat, yang ini dapat gitu loh ada yang dapat. Jadi tampaknya JPU sengaja menyebar banyak pasal supaya nanti ada yang nyangkut," ucapnya.

Karena itu, Edy Mulyadi menegaskan dakwaan dan jeratan pasal yang diberikan JPU kepadanya merupakan pesanan oligarki.

"Tapi dil uar itu, dengan dakwaan 313 plus 995 halaman lampiran ditambah pasal yang berlapis-lapie dakwaan primer, subsider yang segala macam itu tidak bisa tidak ini pesanan, siapa? Oligarki," tegasnya. 

Dalam kasus ini JPU mendakwa Edy Mulyadi telah menyebarkan berita bohong yang menimbulkan keonaran di masyarakat.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved