Berita Palangkaraya

Pemprov Kalteng Minta Pengusaha Prioritaskan Kebutuhan Lokal Dibukanya Ekspor CPO Sawit

Pemprov Kalteng melalui Disdagperin meminta kepada pengusaha untuk memprioritaskan kebutuhan lokal setelah ekspor sawit kembali dibuka oleh pemerintah

Penulis: Ghorby Sugianto | Editor: Sri Mariati
Tribunkalteng.com/Ghorby Sugianto
Kepala Disdagperin Kalteng, Aster Bonawaty. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disdagperin), menginginkan dan meminta dengan dibukanya ekspor sawit oleh pemerintah dapat memproritaskan kebutuhan lokal.

Hal itu diungkapkan Kepala Disdagperin Kalteng Aster Bonawaty, dirinya berharap dengan dibukanya kembali keran ekspor crude palm oil (CPO) dapat menstabilkan harga tandan buah segar (TBS) yang sempat anjlok akibat ditutupnya keran ekspor beberapa waktu lalu.

"Dengan dibukanya keran ekspor CPO ini, otomatis ada sedikit gairah terhadap perekonomian khususnya komunitas sawit. Untuk itu, kita mengharapkan agar hal ini dapat menjaga keseimbangan pasokan CPO untuk di dalam negeri," katanya Aster Bonawaty, Jumat (10/6/2022).

Sebelumnya pemprov kalteng telah mengadakan rapat penetapam harga TBS di bulan Mei 2022, sebagai tindak lanjut dari Pergub Kalteng No. 64 Tahun 2020 tentang Pedoman Penetapan Harga PembelianTBS Kelapa Sawit Produksi Perkebun di Kalteng.

Baca juga: Presiden Jokowi Larang Ekspor CPO, Harga Kelapa Sawit Kalteng Anjlok Jadi Rp 2.200 Perkilogram

Baca juga: M Gumarang : Harusnya Harga Minyak Goreng Daerah Penghasil CPO Kalteng Lebih Murah

Untuk umur tiga tahun Rp 2.688,70, umur empat tahun Rp 2.934,55, umur lima tahun Rp 3.170,86, dan umur enam tahun Rp 3.263,18. Selanjutnya, umur tujuh tahun Rp 3.328,60, umur delapan tahun Rp 3.474,85; dan umur sembilan tahun Rp 3.566,86.

Sedangkan Harga TBS kelapa sawit untuk tanaman berumur sepuluh sampai dengan dua puluh tahun, yakni menjadi Rp 3.677,32 pada bulan April bila dibandingkan dengan bulan Maret yang hanya Rp 3.635,28.

Kendati keran ekspor CPO sudah dibuka, kata Aster, namun para pengusaha yang bergerak di sektor industri atau penyediaan bahan baku kelapa sawit tetap harus memprioritaskan pemenuhan dan menjaga kestabilan kebutuhan CPO berserta produk turunannya di dalam negeri.

"Kami terus berkomunikasi dengan produsen minyak goreng, untuk memprioritaskan kebutuhan masyarakat. Agar kebutuhan-kebutuhan masyarakat terutama minyak goreng curah tetap terpenuhi," ungkapnya.

Baca juga: Kepala Disdagperin Provinsi Kalteng: Stok Sembako Dipastikan Cukup, Awasi Harga Tidak Meroket Lagi

Aster Bonawaty menjelaskan, dalam kegiatan ekspor CPO Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Tengah akan mengeluarkan dokumen pendamping untuk negara tujuan ekspor CPO, seperti Cina, Korea, Eropa, dan negara lainnya.

"Kita berharap agar TBS ini tidak mengalami gejolak. Sehingga pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terhadap minyak goreng juga tidak mengalami gangguan," ujar Aster.

Berdasarkan hasil pemantauan di sejumlah kabupaten dan kota ketersediaan stok minyak goreng di pasaran masih sangat mencukupi. Harganya pun masih relatif terkendali, belum ada kenaikan harga.

"Harga minyak goreng masih tetap stabil, sebelum lebaran harga Rp24 ribu per liter, sampai sekarang pun masih segitu. Tidak ada kenaikan harga baik itu setelah keran ekspor CPO ditutup ataupun dibuka kembali," pungkas Aster Bonawaty. (*)

 

Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved