Berita Palangkaraya

Waspada Peredaran Upal, BI Kalteng: Kenali Keaslian dengan 3D, Jika Ragu Lapor ke Bank Setempat

Bank Indonesia melakukan antisipasi adanya upal yang beredar di masyarakat dengan program CBP Rupiah, cinta bangga dan memahami rupiah jelang lebaran

Penulis: Ghorby Sugianto | Editor: Sri Mariati
Tribunnews.com
Ilustrasi uang. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA – Waspada peredaran uang palsu (upal) menjelang lebaran kerap terjadi, tindakan kriminalitas tersebut dimantaatkan pelaku kejahatan untuk beraksi.

Oleh karenanya Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kalteng melakukan antisipasi adanya upal yang beredar di masyarakat dengan program CBP Rupiah, cinta bangga dan memahami rupiah.

Hal itu disampaikan Kepala Perwakilan BI Kalteng, Yura Djalins kepada Tribunkalteng.com, Senin (18/4/2022).

Dalam program itu, dia menyampaikan untuk mengenali keaslian uang rupiah dengan cara 3D, dilihat, diraba dan diterawang.

"Yang perlu dilakukan masyarakat saat bertransaksi adalah memeriksa uang rupiah yang diterima, dengan cara dilihat, diraba dan diterawang," kata Yura Djalins.

Baca juga: Cegah Peredaran Uang Palsu, BI Kalteng Masyarakatkan Pembayaran Uang Elektronik Gunakan QRIS

Baca juga: Polwan Geledah 12 Uang Palsu di Balik Bra Perempuan Ini, Dipakai Belanja di Pasar

Setiap uang rupiah ada unsur pengamanan untuk mengidentifikasi keaslian. Saat dilihat uang tersebut jelas dan bewarna terang dan terdapat benang pengamannya.

Selanjutnya apabila masih ragu, bisa diraba. Uang asli akan terasa kasar apabila diraba pada gambar pancasila, tulisan NKRI dan gambar utama uang rupiah. Bagian yang bisa diraba tuna netra.

"Teknik terakhir adalah diterawang, terutama pada bagian yang bewarna putih. Untuk melihat tanda air dan gambar saling isi," jelas Yura Djalins.

Berdasarkan data yang ada di BI Kalteng, hingga triwulan ke satu terdapat 7 lembar upal yang ditemukan.

Baca juga: Pria Asal Batola Ini Nekat Edarkan Uang Palsu di Kapuas, Terungkap Upal dari Surabaya

Penggunaan QRIS menurutnya juga akan terhindar dari peredaran upal di Kalteng karena menggunakan uang elektronik dan mekanisme sistemnya.

"Karena seluruh pencatatan dan kepemilikan akun atau rekening uang elektronik akan tersimpan oleh penyedia jasa sistem pembayaran," terang Yura Djalins.

Apabila penggunaan QRIS optimal, maka masyarakat akan terhindar dari potensi menerima upal dibandingkan dengan penggunaan uang tunai. (*)

Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved