Berita Kaltara

Predator Kasus Asusila Anak di Tarakan, Korban Bertambah Jadi 48 Orang, Korban Diberikan Terapi

Hingga saat ini tercatat total korban kasus mencapai 48 anak tindak asusila yang dilakukan RD atau RA seorang guru ngaji di satu sekolah di Tarakan

Editor: Sri Mariati
TribunKaltara via Kompas.com
Ilustrasi tindak asusila dan pelecehan seksual 

TRIBUNKALTENG.COM, TARAKAN – Hingga saat ini tercatat total korban kasus mencapai 48 anak tindak asusila yang dilakukan RD atau RA seorang guru ngaji di satu sekolah di Tarakan.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk serta Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Tarakan Maryam.

Pihaknya saat ini tengah membantu memulihkan rasa traumatik yang dialami sejumlah korban, salah satunya terapi terhadap korban dan keluarga dalam satu rumah.

Adapun keluarga ikut diterapi berdasarkan informasi disampaikan HIMPSI dengan tujuan utama agar anak tidak trauma dengan hal tersebut.

“Orangtua dalam hal ini jangan sampai bertanya. Mengulangi lagi membahas lagi. Untuk penanganan kepada anak-anak juga sudah dilaksanakan dan saat ini masih terus berjalan,” ujarnya. Terapinya dilakukan per kelompok berdasarkan keparahan traumatik yang cukup berat.

Baca juga: Pemuda di Tanjung Limau Bontang Tega Melakukan Tindak Asusila Pada Anak di Bawah Umur

Tercatat saat ini jumlah anak yang ditangani pihaknya dari tersangka berinisial RD atau RA mencapai 48 anak yang menjadi korban.

“Risiko berat dua anak. Traumatiknya cukup tinggi dan terapinya tersendiri privat. Sisa 46 itu dibagi tiga kelompok dan diterapi teman-teman HIMPSI,” jelasnya.

Lebih jauh mengulas mengenai orangtua harus diterapi agar tidak membahas hal-hal berkaitan dengan kasus itu kepada anaknya saat sudah berada di lingkungan keluarga.

“Cukup teman-teman psikologi yang menangani. Sekembali di rumah beraktivitas biasa, hal itu jangan disinggung. Termasuk adegan-adegan di televisi juga keluarga harus waspadai,” ujarnya.

Mengantisipasi hal ini jangan sampai terulang, lanjutnya, ada pertemuan belum lama ini rapat koordinasi lintas sektor dan SKPD.

Di situ dihadirkan Kemenag, Disdik dan kepala KUA melakukan diskusi karena memang dinilai semakin marak pesantren di Tarakan.

“Bagaimana antisipasi agar tidak terulang lagi, disampaikan Pak KH Zainuddin Dalila perlu kita tahu dan cari apa persoalan dan sebab utamanya tentunya kepada pelaku. Kok bisa terjadi ini,” ujarnya.

Baca juga: Polisi Masih Selidiki Dugaan Keterlibatan Oknum Pimpinan Ponpes Tenggarong Kasus Dugaan Asusila

Jika melihat persoalan atau kasus ada, ada mekanisme di dalam pendirian pesantren yang tidak terpenuhi. Misalnya untuk guru khususnya perlu ada assessment sesuai kualifikasi.

“Kemudian izin operasional harus tahu. Standar operasionalnya juga sesuai SOP. Itu kemarin kita diskusi agar meminimalisir itu. Salah satunya disarankan Ketua NU Pak H Abdul Somad membuka jejaring,” ujarnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved