Breaking News:

Berita Kaltara

Korban Pencabulan Sesama Jenis di Tarakan Alami Trauma, Polres Gandeng Psikolog Tangani Trauma

Kasus pencabulan puluhan Anak di bawah umur memberikan trauma bagi sejumlah anak, untuk itu Polres dan Pemkab Tarakan gandeng psikolog atasi trauma

Editor: Sri Mariati
huffington post
Ilustrasi, kasus pencabulan anak di bawah umur di Tarakan. 

TRIBUNKALTENG.COM, TARAKAN – Kasus pencabulan puluhan Anak di bawah umur yang dilakukan tersangka RD atau RA (22) masih diproses dan diselidiki Polres Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara).

Sejumlah korban pencabulan anak mengalami trauma, sehingga Penyidik Unit Reskrim Polsek Tarakan Utara bekerja sama dengan psikolog untuk penanganan perkara pencabulan yang melibatkan korbannya di kisaran usia mulai dari 12 tahun sampai 15 tahun.

Sebelumnya tersangka dilaporkan orangtua korban karena melakukan tindak asusila dimana korbannya juga berjenis kelamin sama dengan tersangka yakni laki-laki.

Tersangka yang sudah dianggap santri senior meskipun sebenarnya setelah ditelusuri hanya warga biasa, di tempat para korban belajar ilmu agama ini kini menjalani proses pemeriksaan.

Adapun terhadap korban, agar tidak menimbulkan trauma yang cukup dalam bagi korban maka diberikan penanganan berupa pendampingan.

"Kalau pendampingan ada. Kami sudah koordinasi dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan Dan Keluarga Berencana yang membawahi Perlindungan Anak (DPMPPKB),” beber Kapolres Tarakan AKBP Taufik Nurmandia melalui Kapolsek Tarakan Utara, AKP Kistaya.

Baca juga: Polsek Kusan Hilir Tangkap Tiga Warga Tanahbumbu Terkait Kasus Pencabulan Anak Bawah Umur

Adapun selain dari DPMPPKB Kota Tarakan, juga bekerja sama dengan Badan Pemasyarakatan.

“Kami ajak kerja sama, apalagi korban sudah melakukan perbuatannya sejak tahun 2016," urai AKP Kistaya.

Lebih jauh dijelaskan AKP Kistaya, dengan riwayat korbannya yang mencapai puluhan orang, tentu sangat perlu dilakukan pendampingan secara perlahan.

Ia juga membeberkan, saat kasus ini terungkap, penyidik sempat menemui kesulitan mencari sample korban.

Pasalnya, salah satu korban tidak mengaku dan korban masih merasa takut mengungkapkan kejadian sebenarnya.

Namun dengan tantangan ini, pihaknya tidak berputus asa. Memang dalam penanganan kasus Anak di bawah umur, semua harus dilakukan perlahan apalagi menggali cerita dari korban.

“Mesti begitu, pelan-pelan pendekatannya kepada korban untuk bisa mengetahui kronologis kejadian sebenarnya. Agar tidak menimbulkan trauma pada korban,” urainya.

Baca juga: Pelaku Pencabulan Anak di Bawah Umur Ditangkap PPA Satreskrim Polresta Palangkaraya

Ia melanjutkan, penyidik juga mengingatkan kepada korban dan orangtua korban yang lainnya untuk melakukan terapi di Polsek agar bisa menenangkan psikologi.

"Saya sudah sampaikan agar menghubungi saya kalau ada yang menjadi korban dan minta bantuan," pesannya.

Lebih jauh membahas perilaku pelaku RD atau RA ini kepada korban dinilainya bisa berdampak buruk bagi korban dan bisa menularkan perilaku tersebut nantinya.

Baca juga: Pencabulan di Kalsel, Nyaris Jadi Korban Anak di Bawah Umur Kritis Dipukul Pakai Batu Pelaku

Dalam hal ini, ia juga meminta kepada media agar tidak mempublish lokasi TKP untuk menutup identitas korban dan tempat persis korban belajar.

Ini juga sesuai Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan pedoman pemberitaan terhadap anak yang menjadi pelaku kekerasan seksual. (*)

Artikel ini telah tayang di TribunKaltara.com dengan judul Korban Predator Sesama Sejenis Diberi Pendampingan, Rangkul Psikolog Tangani Trauma Anak.

Sumber: Tribun kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved