Berita Kaltara

Imigrasi Nunukan Berhasil Amankan 5 Orang Asal Madura, Sanggup Bayar Belasan Juta Buat Paspor Palsu

Personel Imigrasi Kelas II TPI Nunukan, menangkap kembali 5 orang asal Madura, Jawa Timur kedapatan masuk Negeri Jiran Malaysia, 6 paspor palsu

Editor: Sri Mariati
HO/ Lukie Humas Imigrasi Nunukan
5 orang asal Madura, Jawa Timur diamankan oleh personel Imigrasi Kelas II TPI Nunukan, Kamis (10/03/2022). 

TRIBUNKALTENG.COM, NUNUKAN – Personel Imigrasi Kelas II TPI Nunukan, menangkap kembali 5 orang asal Madura, Jawa Timur yang kedapatan masuk Negeri Jiran Malaysia, melintas di Tawau, lewat dermaga Sungai Nyamuk, Sebatik, Kamis (10/03/2022), pukul 12.15 WITA.

Dari tangan kelima orang tersebut, petugas mendapati 6 paspor palsu. Mereka mengaku diberikan paspor palsu ketika akan berangkat dari Bandara Juanda, Surabaya menuju Badara Juwata, Kota Tarakan.

Adapun inisial 5 WNI non prosedural itu yakni RT (30) dan AM (36), keduanya laki-laki. R (33), K (35), dan S (49). Ketiganya perempuan.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Nunukan, Washington Saut Dompak mengatakan, jumlah mereka sebenarnya ada 12 orang. Namun yang 7 orang lainnya berhasil lolos masuk ke Malaysia.

"Untuk sementara ini saya anggap mereka para korban calo. 7 orang lainnya lolos masuk Malaysia lewat Sebatik. Makanya kami dapat 6 paspor palsu, karena satu orang terbawa paspor temannya yang sudah lolos. Kebetulan dua orang itu calonya sama," kata Washington Saut Dompak, Minggu (13/03/2022).

Baca juga: WNI Ilegal Sering Ditangkap Polis Malaysia, BP2MI Nunukan Lakukan Patroli Perbatasan Bersama

Washington menjelaskan, 5 korban itu berangkat dari Bandara Juanda, Surabaya, Rabu (9/3/2022) pukul 11.50 WIB dan tiba di Bandara Juwata, Tarakan pukul 16.00 WITA.

Di Tarakan mereka dijemput oleh seorang laki-laki yang tidak diingat namanya, menggunakan mobil untuk dibawa ke sebuah penginapan.

Barulah pada Kamis (10/3/2022) pukul 09.30 WITA, mereka diarahkan untuk berangkat dari Pelabuhan Tengkayu, Tarakan menuju dermaga Sungai Nyamuk, Sebatik, Kabupaten Nunukan dengan menggunakan speedboat reguler.

"Modus paspor palsu ini sama dengan dua wanita asal Madura juga yang kami amankan sebelumnya. Nama yang tertera di paspor berbeda tapi fotonya sama," ucap Washington.

Dia menuturkan, kelima orang tersebut sebelumnya pernah bekerja di Kuala Lumpur, Malaysia. Rata-rata mereka bekerja tiga tahun di Malaysia.

Ada yang bekerja sebagai pelayan di warung kopi dan juga buruh bangunan. Namun sebelum pandemi Covid-19 mereka kembali ke Indonesia.

Baca juga: 7 WNI Ditangkap Polisi Malaysia, Masuk Secara Ilegal, Satu di Antaranya Lansia 80 Tahun

"Jadi mereka bawa 6 paspor palsu dan 4 paspor asli. Kalau yang lokasi pembuatannya di Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur itu dipalsukan. Sedangkan kalau buatnya di Jember, Jawa Timur itu paspor asli. Tapi ada satu yang pakai SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor) terbitan Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur. Itu artinya eks deportan PMI," ujar Washington.

Diduga kelima WNI tersebut merupakan korban penyelundupan orang. Karena masing-masing dari mereka sanggup membayar calo sebesar Rp15-Rp16 juta.

Mereka sadar bahwa biaya sebesar itu untuk pembuatan paspor palsu dan biaya akomodasi hingga tiba di Kuala Lumpur.

Halaman
12
Sumber: Tribun kaltara
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved