Hacker Kalsel Dibekuk FBI dan Interpol, Diduga Jual Peralatan Peretas, Korban Tersebar di 43 Negara

Badan Intelijen Amerika Serikat, FBI dan Interpol diback-up Mabes Polri menangkap warga Kalsel penjual peralatan hacker

Editor: Dwi Sudarlan
surabaya.tribunnews.com
Ilustrasi hacker, FBI, Interpol dan Mabes Polri menangkap warga sekaligus hacker Kalsel dalam dugaan menjual peralatan peretas aplikasi internasional. 

TRIBUNKALTENG.COM, JAKARTA - Badan Intelijen Amerika Serikat, FBI dan Interpol diback-up Mabes Polri menangkap warga Kalimantan Selatan (Kalsel), RNS.

RNS ditangkap di Banjarbaru, Kalsel karena diduga selain menjadi peretas atau hacker juga menjual peralatan peretas (hacking tools).

Berdasar hasil penyelidikan, peralatan peretas yang dijual RNS itu telah digunakan untuk membobol perangkat keamanan akun-akun pengguna aplikasi startup kelas internasional

Tersangka dugaan penjual peralatan peretas itu ditangkap FBI dan Interpol diback up Mabes Polri di wilayah Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Baca juga: Jasad Selebgram Gabby Petitio Ditemukan, FBI Kini Buru Brian Laundrie di Hutan Florida

Baca juga: Lewat 15 Aplikasi ini Joker Bisa Mencuri Uang dari Handphone, Segera Hapus dari Android Anda!

Baca juga: Masyarakat Bisa Daftar Haji Online melalui Aplikasi ini, Simak Penjelasan Kemenag Kapuas

"Peralatan peretas ini telah menyasar lebih dari 70 ribu akun yang tersebar di 43 negara," kata Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Pol Asep Edi Suheri kepada wartawan, Jumat (18/2).

Ia menyebutkan bahwa tersangka menjual alat atau kode peretasan tersebut menggunakan situs yang transaksinya melalui bitcoin.

Para korban dari kejahatan ini, kata dia, tersebar di beberapa negara seperti Thailand, Hongkong, Jepang, Prancis,

Menurut Brigjen Pol Asep Edi Suheri, kerugian yang terjadi akibat kejahatan tersebut berkisar sebesar Rp 31 miliar.

"Kepada pengguna payment online ataupun E-comerce agar lebih berhati-hati dalam penggunaan data pribadi," ucap Edi.

Dari RNS, penyidik menyita barang bukti berupa satu handphone merk iPhone 11 Pro, sebuah smartwatch, buku tabungan, tiga unit sepeda motor, satu mobil sedan merk BMW 320i AT, sebuah kartu tanda penduduk (KTP) Kalimantan Selatan, dan dua unit laptop.

Berkas kasus tersebut, kata Asep, saat ini sudah dinyatakan lengkap atau P21 oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Dalam waktu dekat, penyidik bakal melimpahkan tersangka dan barang bukti ke Kejaksaan.

Edi mengatakan bahwa pihaknya tengah menjalin kerja sama dengan FBI untuk dapat melakukan penindakan dan pengungkapan kasus-kasus jaringan pelaku kejahatan siber internasional yang melibatkan beberapa negara.

Mengutip tribratanews.polri.go.id, praktik penjualan alat peretasan senilai Rp 900.000 per paket ini dilakukan oleh pelaku melalui website 16*** dan bertransaksi menggunakan bitcoin.

Script yang dibuat oleh tersangka, memiliki fitur agar tidak terdeteksi oleh anti phising perambah seperti Google, anti bot serta di lengkapi lebih dari 8 bahasa di dunia yg dapat ditampilkan secara otomatis berdasarkan geolocation para korban.

Script ini digunakan oleh para peretas untuk menggaruk data-data pribadi pemilik akun mulai data nomor kartu kredit, email, kata sandi, KTP, nomor telepon, dan lain-lain.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, lebih dari 70.000 akun para korban yang tersebar di 43 negara beberapa di antaranya Thailand, Hongkong, Jepang, Prancis, AS, dan Inggris berhasil diambil alih oleh peretas.

Adapun kerugian yang ditimbulkan akibat kejahatan ini sudah menembus angka Rp 31 miliar. (*)

Sumber: Tribun Kalteng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved