Breaking News:

Berita Kalteng

BKSDA Terima Laporan Babi Liar Hutan Kalteng Banyak Mati, Organ Bangkai Babi Diuji Klinis

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalteng mendapat laporan masyarakat adanya babi hutan mati dengan jumlah banyak. 

Editor: Fathurahman
Peter Jolly/The Independent
Babi hutan 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA- Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalteng mendapat laporan masyarakat adanya babi hutan mati dengan jumlah banyak. 

Namun, instansi tersebut  belum bisa memastikan jumlah pasti babi hutan yang mati terutama yang di laporkan dari Kabupaten Murung Raya dan Katingan.

"Jumlah babi hutan yang banyak mati tersebut menurut laporan masyarakat. Namun belum dipastikan jumlahnya pastinya,  karena kami belum turun ke lapangan," Kata Handi Nasoka Kepala BKSDA Kalteng kepada Reporter Tribunkalteng.com (06/01/2022). 

Saat ini, pihaknya masih berkonsultasi dengan dokter hewan untuk mengetahui sebab kematian babi hutan tersebut.

Baca juga: NEWS VIDEO, Guru di Palangkaraya Ditemukan Sudah Meninggal Dunia Oleh Calon Suami

Baca juga: Izin Terancam Dicabut, Tempat Hiburan Malam O2 Cafe dan Sport Bar Kota Palangkaraya Sepi Aktivitas

Baca juga: Satpol PP Kota Palangkaraya Tegaskan Wali Kota Restui Penindakan THM Tak Taat Aturan

Salah satunya dengan membawa organ bangkai babi liar tersebut untuk diuji klinis, sehingga bisa diketahui  apakah terjangkit Afrika Swine Fever (ASF) yang akhir ini menyerang Kalteng atau bukan.

Menurut Dr  Nina Ariani salah satu Fungsional Medik Veteriner Ahli Madya Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP)  Kalteng, data di bulan November babi yang terserang ASF mencapai 2.353 ekor mati.

BKSDA Kalteng menuturkan selama ini masih belum ada kasus matinya babi hutan secara banyak seperti yang dilaporkan.

Handi mengatakan populasi babi liar di Kalteng masih belum ada terinvetarisir jumlahnya,  namun dirinya menyebutkan jika hewan babi termasuk mudah bereproduksi.

Ditempat terpisah Drh Eko Kepala UPT Puskewan Palangkaraya menjelaskan jika ada babi mati  masyarakat hendaknya melapor ke Dinas Peternakan Kesehatan Hewan dan mengubur babi tidak mengonsumsinya.

Jika babi sakit lakukan isolasi  kosongkan kandang selama 2 bulan. Karena virus ASF yang menyerang babi mengakibatkan kematian babi itu sendiri dan dapat merugikan pemilik ternak babi

Untuk mencegah ASF peternak dapat memperhatikan pakan tidak boleh sisa dari restoran atau lainnya, tempat pakan bebas serangga, pemanasan pakan 90° C selama 1 jam.

Kebersihan, pakan dan peralatan yang digunakan ternak babi sangat mempengaruhi kesehatan babi itu sendiri. (*)
 
 
 
 

 

Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved