Berita Palangkaraya

Direktur Bina Kesehatan Reproduksi BKKBN Mukhtar Bakti Sebut 27 Persen Anak Indonesia Alami Stunting

sekitar 27 persen anak di Indonesia yang mengalami stunting atau gizi buruk hal itu diungkapkan Direktur Bina Kesehatan Reproduksi BKKBN Mukhtar Bakti

Penulis: Muhammad Lamsi | Editor: Sri Mariati
Lamsi/Tribunkalteng.com
Direktur Bina Kesehatan Reproduksi BKKBN Pusat Mukhtar Bakti saat pemaparan materi mengenai Stunting pada acara sosialisasi, advokasi, dan KIE Program Bangga Kencana oleh BKKBN Kalteng, Senin (01/11/2021). 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA – Pada materi yang Direktur Bina Kesehatan Reproduksi BKKBN Pusat Mukhtar Bakti, berikan materi mengenai stunting pada acara Sosialisasi, Advokasi, dan KIE Program Bangga Kencana bersama mitra kerja.

Mukhtar Bakti di Indonesia berdasarkan data yang ada sekira 27 persen anak terkena stunting.

“Artinya jika di Indonesia ada lahir 100 anak sekira 30 anak lahir dalam keadaan stunting,” ucapnya di Aula Masjid Raya Darussalam Jalan G Obos Komplek Islamic Centre Kota Palangkaraya, Senin (1/11/2021).

Dalam paparannya, dia menyampaikan kondisi terjadinya stunting dengan tinggi badan anak lebih pendek dibanding tinggi badan anak seusianya.

“Stunting itu tidak bisa disembuhkan akan tetapi bisa dicegah,” ucap Mukhtar Bakti.

Baca juga: NEWS VIDEO,BKKBN Kalteng Sosialisasi Advokasi dan KIE Persiapkan Masyarakat Berkualitas

Baca juga: Kasus Konfirmasi Positif dan Meninggal Akibat Covid-19 Kalteng Bertambah  

Baca juga: Salam Bara Katingan Kalteng Tak Kalah dari Aksi Tinju Pohon Pisang Salam dari Binjai

Menurutnya, stunting juga menjadi beban bagi pemerintah untuk mempusatkan kesehatan agar dapat membasmi stunting ini.

Membasmi stunting ini harus dari hulunya yaitu remaja yang harus dipersiapkan dan diberikan pemahaman tentang rencana untuk berkeluarga dengan baik.

"Caranya dengan menyiapkan para remaja diberikan sosialisasi bagaimana perencanaan untuk berkeluarga agar bisa menekan angka stunting di Indonesia," tegas Mukhtar Bakti.

Dirinya juga mengatakan, pemahaman mengenai keluarga berencana ini yang harus diberikan kepada para remaja.

"Pemahaman mengenai keluarga berencana ini bertujuan agar nantinya ketika si remaja mau menikah ia sudah paham dan siap secara rohani maupun jasmani untuk membina rumah tangga," tutup Mukhtar Bakti. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved