Breaking News:

Berita Palangkaraya

Pererat Persaudaraan, PMII Rayon Perjuangan Al Fatih Gelar Wisata Religi ke Makam Datu Tundai

Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Perjuangan Al Fatih melakukan wisata religi atau tadabbur alam di Makam Datu Tundai.

Penulis: Muhammad Lamsi | Editor: Fathurahman
Muhammad Lamsi/Tribunkalteng.com
Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Perjuangan Al Fatih melakukan wisata religi atau tadabbur alam di Makam Datu Tundai, Minggu (17/10/2021). 

TRIBUNKALTENG.COM,PALANGKARAYA - Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Perjuangan Al Fatih melakukan wisata religi atau tadabbur alam di Makam Datu Tundai, Minggu (17/10/2021).

"tujuan dari kegiatan ini adalah membentuk rasa kekeluargaan antar anggota serta bisa sambil berwisata religi alternatif dari wisata yang ada di Kota Palangkaraya," ujar Wahyuniati selaku Ketua PMII Rayon Perjuangan Al Fatih.

Perjalanan wisata ke makam datu tundai ini memakan waktu yang cukup lama yaitu sekitar 1 jam dari pusat Kota Palangkaraya.

Untuk sampai ke makam Datu Tundai tidak bisa melalui jalur darat melainkan harus menggunakan transportasi air atau klotok.

Baca juga: PC PMII Palangkaraya Gelar Pelatihan Instruktur untuk Mencetak Kader Handal

Baca juga: Ini Keinginan Ketua DPRD Palangkaraya Sigit K Yunianto untuk Prestasi Atlet Kalimantan Tengah

Baca juga: Himpunan Mahasiswa Sukamara Menggelar Simposium Hadirkan Bupati dan Tokoh Muda

"Peserta yang ikut wisata religi ini ada 15 orang terdiri dari anggota baru dan pengurus Rayon hingga senior atau alumni dari PMII Rayon Perjuangan Al Fatih," tambah Wahyuniati atau biasa yang di panggil dengan Ayu.

Alasan memilih wisata religi ke Makam Datu Tundai adalah selain untuk berziarah ke makam Wali Allah, sepanjang perjalanan memakai kelotok juga bisa menikmati hutan serta melihat kehidupan pinggiran sungai kota Palangkaraya, tambah Ayu.

Makam Datu Tundai sendiri merupakan makam dari seorang Wali Allah asal Kalimantan Selatan yang mempunyai misi menyebarkan agama islam.

Datu Tundai sendiri hanya sebuah sebutan atau gelar karena makam Wali Allah ini berada di pertigaan sungai kahayan dan perkampungan Tundai.

Nama asli dari Datu Tundai sendiri adalah Al Habib Muhammad Yasin bin M Husein Al Idrus, yang sampai sekarang tidak diketahui kapan ia wafat.

"Ini adalah pengalaman pertama saya melakukan wisata religi ke Makam Datu Tundai, dan saya menikmati perjalanan menggunakan kelotok sambil melihat hutan dan melewati sungai yang luas," ujar Aulva salah satu peserta wisata religi ini.

Muji Rahman selaku Alumni PMII Rayon Perjuangan Al fatih mengungkapkan bahwa wisata religi semacam ini harusnya membuat semangat rasa kekeluargaan baik pengurus ataupun anggota baru bisa terpupuk serta dengan kunjungan ini bisa mengenalkan lagi wisata religi ini ke khalayak ramai diluar sana. (*)

Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved