Breaking News:

Berita Palangkaraya

Wisata Palangkaraya, Makam Datu Tundai Jadi Tempat Wisata Religi Alternatif, Ini Cara ke Lokasi

Makam Datu Tundai jadi salah satu alternatif wisata religi di Kota Palangkaraya. Menuju Lokasi ini sambil menikmati suasana hutan dan Sungai Kahayan.

Penulis: Muhammad Lamsi | Editor: Fathurahman
Muhammad Lamsi/Tribunkalteng.com
Pengurus PMII Palangkaraya berwisata religi atau tadabbur alam di Makam Datu Tundai Kota Palangkaraya, Minggu (17/10/2021). 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA –Makam datu Tundai jadi salah satu alternatif wisata religi di Kota Palangkaraya.

Lokasi  makam ini belum banyak yang tahu ke lokasi tersebut sambil menikmati suasana hutan dan Sungai Kahayan.

Makam Datu Tundai sendiri merupakan makam dari seorang wali Allah asal Kalimantan Selatan yang mempunyai misi menyebarkan agama islam.

Datu Tundai hanya sebutan atau gelar karena makam Wali Allah ini berada di Pertigaan Sungai Kahayan dan Perkampungan Tundai.

Baca juga: Pererat Persaudaraan, PMII Rayon Perjuangan Al Fatih Gelar Wisata Religi ke Makam Datu Tundai

Baca juga: Akses Jalan Mahir Mahar Palangkaraya Terhenti Akibat Pohon Tumbang Tutup Badan Jalan

Baca juga: Ini Keinginan Ketua DPRD Palangkaraya Sigit K Yunianto untuk Prestasi Atlet Kalimantan Tengah

Nama asli dari Datu Tundai sendiri adalah Al Habib Muhammad Yasin bin M Husein Al Idrus, yang sampai sekarang tidak diketahui kapan ia wafat.

"Menurut kisah dari orang-orang terdahulu bahwa datu tundai ini Wali Allah yang berasal dari daerah Kalimantan Selatan yang mempunyai misi melakukan penyebaran agama islam melalui dagang," ujar Abah Ipan selaku pengemudi Klotok yang sering membawa wisatawan ke Makam Datu Tundai.

Sampai sekarang belum diketahui Datu Tundai ini meninggalnya tahun kapan, yang jelas tertulis makam ini pernah di pugar dan diresmikan oleh Wali Kota Palangkaraya pada saat itu HM Riban Satia pada tahun 2013, ini tertuang dalam tulisan di Prasasti Makam Datu Tundai.

Untuk sampai ke Makam Datu Tundai ini tidak bisa melalui jalur darat melainkan harus melalui transportasi air atau biass disebut dengan Klotok.

Lokasi Wisata Religi Datu Tudai di Palangkaraya Kalimantan Tengah.
Lokasi Wisata Religi Datu Tudai di Palangkaraya Kalimantan Tengah. (Muhammad Lamsi/Tribunkalteng.com)

Perjalanan menggunakan klotok ini memakan waktu satu jam waktu tempuh untuk sampai ke Makam Datu Tundai.

Dengan waktu satu jam tersebut kita bisa menikmati pemandangan hijaunya hutan dan derasnya air sungai kahayan serta dapat melihat kehidupan masyarakat pinggiran Sungai Kahayan.

Biaya sewa transportasi kelotok ini cukup bersahabat dengan kantong yaitu berkisar Rp 400 sampai Rp 600 ribu rupiah saja.

"Harga sewa kelotok bervariasi tergantung besar klotok dan kapasitas penumpang klotok itu sendiri, ini dihitung berangkat melalui pahandut seberang," ujar Abah Ipan.

Sesampainya di makam kalau beruntung biasanya banyak kera atau monyet seperti di pulau kambang di Kalimantan Selatan, tambah pria berbaju hitam ini.

Jika ingin bertemu dengan monyet atau kera ini disarankan datang pagi karena kalau siang atau sore kemungkinan para kera atau monyet ini sudah kekenyangan makan pisang yang dibawa oleh pengunjung yang datang di pagi hari sehingga mereka tidak keluar siang dan sore hari.

Pada hari libur biasanya rame pengunjung wisata religi ini namun karena lagi masa pandemi seperti ini sudah jarang orang yang datang ke Makam Datu Tundai ini, tutup nya. (*)

Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved