Breaking News:

Berita Palangkaraya

DKPP Kota Palangkaraya Sosialisasi Virus Demam Babi Afrika bagi Peternak

DKPP Kota Palangkaraya menyosialisasikan penanganan virus Demam Babi Afrika yang saat ini ada di Kota Palangkaraya

Penulis: Yonathan | Editor: Sri Mariati
Yonathan/ Tribunkalteng.com
Babid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Palangkaraya Sumardi, saat diwawancarai di ruang kerjanya, Rabu (13/10/2021). 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA – Kasus virus Demam Babi Afrika atau African Swine Fever (ASF), terjadi di Kota Palangkaraya sejak akhir September lalu.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Palangkaraya, mendapatkan laporan peternak di Kota Palangkaraya. Mereka mengeluhkan hewan peliharaan mati mendadak.

Menurut Kepala DKPP Kota Palangkaraya Renson melalui Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Sumardi.

Pihaknya saat ini sudah mulai melakukan sosialisasi terkait virus Demam Babi Afrika ini bagi peternak.

"Kami melakukan sosialisasi pada para peternak di Kota Palangkaraya agar dapat melakukan penanganan pada babi yang terpapar virus Demam Babi Afrika,” ujarnya kepada Tribunkalteng.com, Rabu (13/10/2021).

Baca juga: Gandeng Perusahaan Swasta, Pemko Palangkaraya Bangun Puluhan Bank Sampah Digital

Baca juga: Bangkitkan Sektor Pariwisata, Pemko Palangkaraya Bentuk Badan Promosi Pariwisata Daerah

Baca juga: Barang Rusak Inventaris Daerah Milik Pemko Palangkaraya Dimusnahkan Pakai Alat Berat

Terang Sumardi, bagi peternak lebih sering membersihkan kandang babi dari biasanya.

"Kami tekankan para peternak agar menjaga lingkungan kandang selalu bersih dan peralatan harus disemprot disinfektan," tegasnya.

Ungkapnya, kasus virus Demam Babi Afrika ini sebanyak 297 ekor babi yang mati.

Kata Sumardi, awal mulanya virus Demam Babi Afrika masuk ke Kota Palangkaraya, karena ada peternak yang mengambil bibit anak babi dari Desa Tuwung.

Sebab beberapa ekor babi mati daerah Bukit Rawi, Pulang Pisau.

Babi yang mati diambil sampelnya, setelah itu dibawa ke Banjarbaru untuk dilakukan cek laboratorium.

“Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, babi yang mati ternyata positif ASF,” kata Sumardi. (*)

Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved