HUT TNI

5 Oktober HUT TNI, Kekuatan Militer Peringkat 16 Dunia, Ini Daftar Senjata Canggih 3 Matra TNI

Berdasarkan data Global Firepower, kekuatan militer Indonesia pada 2021 ini menduduki peringkat ke-16 dunia dengan skor 0.2684

Editor: Dwi Sudarlan
twibbonize.com
Contoh Twibbon HUT TNI karya Yusiko Jailus yang bisa didownload di twibbonize.com 

Sukhoi Su-30 mampu melaju dengan kecepatan maksimum 2.120 kilometer per jam dan mampu menjelajah jangkauan 3.000 kilometer.

Sebagai alat tempur, pesawat ini dipersenjatai tembakan GSh-30-1 gun (kaliber 30 mm, 150 peluru) dengan 6 misil antiradar Kh-31P/Kh-31A, 6 misil berpemandu laser Kh-29T/L, 2 × Kh-59ME. Kemudian juga ada bom udara 6 × KAB 500KR, 3 × KAB-1500KR, 8 × FAB-500T, 28 × OFAB-250-270.

Model awal Su30 dan Su-30K dioptimasi untuk misi enduransi panjang 10 jam atau lebih. Pesawat jenis ini dilengkapi dengan sistem radiolocation yang memungkinkan pelacakan hingga 10 target dalam waktu bersamaan.

Selain itu, mempunyai kemampuan penyerangan darat presisi dengan membawa misil dan bom kendali canggih sesuai dengan perlengkapan persenjataan diatas.

Saat ini jenis pesawat ini dioperasikan oleh Aljazair, China, India, Indoneaia, Malaysia, Rusia, Uganda, Venezuela dan Vietnam.

Pesawat tempur jenis ini menjadi tercanggih dalam lingkup Angkatan Udara Rusia yang mampu menarik minat beberapa negara dunia.

- Sukhoi Su-27

Indonesia juga menggunakan jenis pesawat jenis ini yang spesifikasinya masih di bawah Sukhoi Su-30. Pesawat ini dirancang oleh Biro Desain Sukhoi di Rusia pada 1984.

Pesawat ini mempunyai panjang 21,9 meter dengan rentang sayap 14,7 meter. Tingginya 5,93 meter dan mesinnya Lyulka AL-31F turbofan.

Sukhui jenis ini mempunyai keceparan maksimal 2.500 kilometer per jam dengan satu orang kru di dalamnya.

Untuk persenjataan, pesawat ini mempunyai meriam GSh-30-1 30 mm dengan 150 butir peluru, n peluru kendali anti-radiasi X-31, peluru kendali udara ke darat X-29L/T, serta bom KAB-150 dan UAB-500 serta bom KAB-500Kr, KAB-1500Kr, KAB-1500L / 1500F / 1500L-PR dan masih banyak lainnya.

Pada saat ini, penggunaan pesawat ini di AS, Angola, Belarus, Ethiopia, Kazakhstan, China, Ukraina, Uzbekistan dan Vietnam.

Berbeda dengan yang lain, pesawat jenis ini mempunyai sayap berbentuk semidelta dan Terdapat dua mesin di dalam badan pesawat.

Pada bagian sayap terpasang saluran udara berbentuk kotak dan Mempunyai sistem "airbrakes" yang dipasang di atas bodi pesawat, di belakang kokpit.

- F-16

Seperti diketahui, pesawat temput "sejuta umat" ini sudah memperkuat TNI AU sejak Desember 1989.

Melalui program Peace Bima Sena pada tahun 1989 mulai berdatangan F-16 A/B ke Indonesia.

Mereka langsung dimasukkan ke Skadron 3 TNI AU di Lanud Iswahjudi.

Namun F-16 TNI AU pernah mengalami masa suram dimana embargo militer Amerika Serikat (AS) membuatnya tak bisa opersional secara maksimal.

1995-2005 baru embargo dari AS dicabut, F-16 mulai terbang lagi walau secara teknologi seri A/B sudah ketinggalan.

Seiring perubahan politik global, AS pun melunak. Pada 2014, AS melakukan hibah F-16 Block 52ID kepada Indonesia sebanyak 24 unit melalui program Peace Bima Sena II.

- T-50 Golden Eagle

Pesawat tempur T 50i Golden Eagle yang didatangkan dari Korea Selatan untuk memperkuat Angkatan Udara Indonesia.

Pesawat ini merupakan jenis trainer supersonik buatan Amerika dan Korea Selatan. Perusahaan yang membuat adalah Korean Aerospace Industries dengan bantuan Lockheed Martin.

Pesawat ini mulai diperkenalkan oleh Angkatan Udara Korea Selatan pada 22 Februari 2005.

Pada 2013, Indonesia memesan jenis pesawat ini sebagai pesawat LIFT (Lead In Fighter Trainer).

Golden Eagle ini memiliki panjang 12.9 meter dan rentang sayapnya 9,17 meter. Pesawat ini memiliki tinggi 4,8 meter dengan kapasitas 2 orang kru di dalamnya.

T-50 menggunakan mesin General Electric F404 afterburning turbofan yang mempunyai kecepatan maksimal 1.728 kilometer per jam.

Pesawat ini memiliki persenjataan kanon 20 mm General Electric M61 Vulcan dengan 205 peluru diumpankan linier tanpa sambungan yang bisa dipasang internal tepat di belakang kokpit.

Selain itu terdapat rudal AIM-9 Sidewinder yang terpasang pada tiap ujung sayap. Ada juga peluncur roket peluncur roket LAU-3 dan LAU-68 , bom kluster CBU-58 and Mk-20, dan bom multiguna Mk-82, Mk-83, dan Mk-84 .

Saat ini, negara yang menggunakan jenis ini adalah Korea Selatan, Filipina, Thailand dan Irak.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (Tribunnews/Puspen TNI)

- EMB-314 Super Tucano

Pesawat ini merupakan pesawat trainer yang memiliki kemampuan anti-perang gerilya yang dikembangkan oleh pabrikan pesawat Brasil, Embraer. Brasil telah mengembangkan pesawat ini sejak 1995.

Pesawat ini sangat pas untuk mendukung pengintaian, close air support, dan penumpasan pemberontakan.

Super Tucano memiliki panjang sekitar 11,42 meter dengan rentang sayap 11,14 meter. Tingginya adalah 3,9 meter dan bisa melaju dengan kecepatan maksimal 590 kilometer per jam.

Berkat kemampuannya, pesawat ini memikat TNI AU. Pada 2012 sejumlah pesawat jenis ini dipesan oleh Indonesia untuk membantu tugas dari TNI. Armada baru ini bertugas menggantikan pesawat OV-10F Bronco.

EMB-314 memiliki sejumlah senjata yang bisa dibawa seperti bom jenis MK-81/MK-82, bom cluster, rocket pod FFAR, dan rudal berpemandu laser, sekelas Maverick.

Untuk menghadapi duel di udara, EMB-314 Super Tucano juga dapat membawa rudal anti pesawat jenis AIM-9L Sidewinder atau MAA-A1 Piranha.

Untuk bertahan, pesawat ini memiliki RWR (Radar Warning Receiver), MAWS (Missile Approach Warning System), dan chaff/ flare dispenser. Untuk melindungi awaknya, kabin pilot dilindungi bahan baja kevlar pada sekeliling kokpit. Untuk keselamatan, pilot dilengkapi kursi lontar Martin Baker.

Sistem yang ada dalam Super Tucano memungkinan pengawasan dan penyerangan baik saat siang dan malam hari, serta sanggup menghadapi segala kondisi cuaca. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul HUT TNI 5 Oktober: Seberapa Kuat Militer Indonesia? Berikut Daftar Alusista yang Kini Dimiliki RI

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved