Breaking News:

Hari Kesaktian Pancasila 2021

Seusai Peristiwa G30S PKI, ini Nasib Keluarga DN Aidit dan Kisah Soal Pesan Terakhir

Dipa Nusantara Aidit atau lebih dikenal dengan DN Aidit, berikut kisah nasih keluarga tokoh PKI. Soal pesan terakhir terungkap.

Editor: Nia Kurniawan
Tribunnews
Petaka Istri DN Aidit Pentolan PKI Usai G30S/PKI, Sempat Nyamar Namun Alami Hal Tragis Ini 

Kala itu ia mengetahui sebuah tulisan di dinding besar bertuliskan 'Gantung Aidit' seakan-akan sudah tahu jika kehidupannya ke depan akan sulit.

Mengetahui tulisan yang menyebut nama ayahnya, Ilham kecil langsung gemetar tubuhnya, dan meyakinkan bahwa dirinya akan menjadi musuh negara.

Namun takdir berkata lain sebab ternyata masih ada orang yang mau mengangkatnya sebagai anak.

Ketika ia menempuh pendidikan SMP, banyak teman yang mengejek dirinya pakai kata 'Aidit gantung.'

Alhasil dirinya marah dan kerap berkelahi.

Hingga kemudian, ia dipanggil oleh seorang Pastur di sekolahnya.

Pastur itu tahu latar belakang Ilham dan cerita masa lalunya dan kemudian menasehati banyak hal padanya.

Ilham mengaku berupaya keras untuk mengubur nama Aidit yang berada di belakangnya.

Bahkan acapkali ia akan menulis nama, ia selalu berhenti lama untuk ingin menuliskan nama Aidit di belakangnya, tetapi hal tersebut selalu diurungkannya dan selalu berusaha menutup serapat-rapatnya.

Setelah 44 tahun akhirnya pada tahun 2003, ia mulai bisa menuliskan nama lengkap dirinya yakni Ilham Aidit setelah dirinya bergabung dalam Forum Silaturahmi Anak Bangsa.

Aidit menyadari Angkatan Darat di bawah Pangkostrad Mayjen Soeharto tengah memburu para tokoh PKI yang dianggap sebagai dalang pembunuhan para jenderal.

Aidit tak juga kembali ke Jakarta dan berusaha meredam aksi kekerasan militer terhadap simpatisan PKI di Jawa Timur.

Pada suratnya yang terakhir tertanggal 10 November, Aidit mengatakan kemungkinan akan mencari perlindungan ke China.

Aidit terus bersembunyi di rumah teman-temannya.

Ia akhirnya tertangkap dan dibawa ke Boyolali pada 22 November.

Saat diproses verbal, Aidit mengaku bertanggung jawab.

"Saya adalah satu-satunya orang yang memikul tanggung jawab paling besar dalam peristiwa G30S yang gagal dan yang didukung oleh anggota-anggota PKI yang lain,

dan organisasi massa di bawah PKI," kata Aidit dalam surat pemeriksaan yang ditandatanganinya.

Ia kemudian dibawa oleh kolonel Jasir Hadibroto ke markas Batalion Infanteri 444. Jasir hendak menghabisi Aidit.

"Ada sumur?" tanyanya.

Di tepi sebuah sumur tua, Aidit dipersilakan mengucapkan pesan terakhir.

Namun Aidit malah berpidato berapi-api yang membuat Jasir kesal.

"Aidit berteriak kepada saya, daripada saya ditangkap, lebih baik kalian bunuh saja.

Saya sih, sebagai prajurit yang patuh dan penurut, langsung memenuhi permintaannya.

Karena dia minta ditembak, ya saya kasih tembakan," kata Jasir dalam wawancara dengan Suara Pembaruan pada September 1998.

Ditembaknya Aidit membuat ia tak sempat diadili.

Peristiwa G30S semakin kabur dan tak pernah benar-benar terungkap hingga saat ini.

(*)

Klik berita terbaru lainnya Tribun Kalteng

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved