Breaking News:

Misteri Sumbangan Rp 2 Triliun

Rp 2 Triliun Akidi Tio, Mantan Menkum HAM Hamid Awaluddin Ungkap Kisah Raja Idris dan Ratu Markonah

Di tengah ketidakjelasan sumbangan Rp 2 triliun, mantan Menkum HAM Hamid Awaluddin beberkan kisah Raja Idris dan Ratu Markonah

Editor: Dwi Sudarlan
Tribun Sumsel
Heriyanti, anak bungsu pengusaha Akidi Tio saat tiba di Mapolda Sumsel dan saat menyerahkan secara simbolis sumbangan Rp 2 triliun untuk penanganan covid-19 di Sumsel. 

Tak hanya itu, Hamid Awaluddin juga membeberkan pada masa kepemimpinan Bung Karno atau Presiden Soekarno di era 1950-an ada sepasang suami istri yang diterima di Istana Negara.

Mereka adalah Raja Idris dan Ratu Markonah yang mengaku sebagai raja dan ratu dari suku Anak Dalam di Jambi.

Raja Idris dan Ratu Markonah ini mendeklarsikan bahwa mereka bisa membantu membebaskan Irian Barat.

Setelahnya banyak yang mengagumi sosok mereka, para pejabat pun banyak yang memberikan tepuk tangan.

Hingga akhirnya kedok penipuan terkuak beberapa hari kemudian.

Ternyata Raja Idris hanyalah seorang pengayuh becak, sementara Ratu Markonah adalah seorang PSK (pekerja seks komersial) di Tegal, Jawa Tengah.

Publik juga pernah digemparkan dengan pernyataan mantan Menteri Agama Said Agil Husin Al-Munawar.

Saat itu Said Agil menyebutkan ada harta karun besar yang bisa dipakai untuk melunasi seluruh utang negara.

Diketahui harta tersebut berupa emas batangan sisa peninggalan Kerajaan Pajajaran yang tersimpan di bawah Prasasti Batutulis, Bogor.

Hamid Awaluddin mengatakan saat itu langsung terjadi kehebohan luar biasa, hingga munculnya harapan dan optimisme bahwa sebentar lagi Indonesia bebas dari utang.

Jusuf Kalla yang pada saat itu menjabat sebagai Menko Kesra meminta Said Agil datang menemuinya.

Kemudian Jusuf Kalla menanyakan apakah Said Agil mengetahui berapa utang luar negeri Indonesia, tapi Said Agil tidak bisa menjawab.

Jusuf Kalla lalu memberi hitungan dengan enteng, jumlah utang luar negeri kita saat itu, awal tahun 2000, lebih kurang Rp 1.500 triliun.

Harga emas setiap gram kala itu adalah Rp 250.000 per gram, maka untuk melunasi utang pemerintah butuh sekitar 6.000 ton emas batangan.

Bila emas batangan tersebut kita angkut dengan truk yang berkapasitas 4 ton, dengan asumsi panjang truk adalah 5 meter, dibutuhkan jejeran truk sepanjang 5 km.

Itu artinya, truk-truk tersebut berbaris mulai dari Kebayoran Baru hingga Bundaran Hotel Indonesia.

"Kira-kira ada tidak emas batangan sebanyak itu di Batutulis?" tanya Jusuf Kalla, tapi Said Agil hanya terdiam lesu.

Ada lagi kisah lain. Hamid Awaluddin mengungkapkan pada 2007 saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin sidang kabinet, tiba-tiba Menteri ESDM Yusgiantoro melapor dengan semangat.

“Bapak Presiden, sebentar lagi Indonesia akan memiliki tiga kilang minyak baru. Dua di antaranya di kampung Pak Wapres Jusuf Kalla yakni di Pulau Selayar dan Parepare," kata Yusgiantoro kepada SBY.

Kemudian Wapres Jusuf Kalla langsung menanggapi ucapan Yusgiantoro tersebut.

Jusuf Kalla lalu menyarankan kepada semua menteri agar saat memberi laporan ke sidang kabinet, sebelumnya harus memeriksa betul akurasi data yang hendak disajikan.

Faktanya ada dua persyaratan untuk membangun kilang minyak.

Pertama, harus dekat dengan sumber daya minyak dan kedua, dekat dengan pasar penjualan.

Kedua persyaratan itu pun tidak ditemukan di Parepare dan Selayar.

Bahkan Jusuf Kalla mengatakan bahwa Parepare itu kampung Menteri Hukum dan HAM, Hamid Awaludin, hanya tempat bertransaksi ikan terbang.

Berdasarkan berbagai kejadian, Hamid menyimpulkan jelas terlihat bagaimana entengnya para pejabat kita bisa dikibuli dan dibuai dengan rayuan gombal tanpa logika. (*)

Artikel ini telah tayang di BangkaPos.com dengan judul Kasus Sumbangan Rp2 T Akidi Tio Bikin Heboh, Hamid Awaludin Sebut Kisah Raja Idris dan Ratu Markonah 

Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved