Berita Tala
Bangunan Pasar Rakyat Pelaihari Tala Kalsel Terbengkalai, Diselimuti Debu
Terbengkali dan kian diselubungi debu. Beginilah kondisi puluhan los di bangunan Pasar Rakyat Pelaihari diingkungan pasar besar Pelaihari.
Penulis: Idda Royani | Editor: edi_nugroho
TRIBUNKALTENG.COM, PELAIHARI - Terbengkali dan kian diselubungi debu. Beginilah kondisi puluhan los di bangunan Pasar Rakyat Pelaihari diingkungan pasar besar Pelaihari.
Sekitar dua tahun silam dibangun, namun aset milik Pemerintah Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), di kawasan Jalan Kemakmuran, Pelaihari, itu hingga kini tak kunjung termanfaatkan secara memadai.
Pantauan Minggu (7/3/2021), pedagang yang menempati petak jualan (los) yang ada di tempat tersebut. Selebihnya, kosong dan kondisinya kian berdebu.
Pemandangan itu nyaris tak berubah ketika banjarmasinpost.co.id melakukan pemantauan di pasar rakyat tersebut, awal Juli 2020 lalu. Hingga sekarang cuma los yang berada di bagian depan yang manfaatkan pedagang, itu pun cuma beberapa orang.
Baca juga: Terjerat Sabu, Polda Metro Jaya Kembali Tangkap Robby Abbas Mantan Muncikari Artis
Sementara itu los lainnya kosong berselimut debu. Ada juga beberapa los yang terbuka dan diijadikan tempat menyimpan barang dagangan.
Tetap cuma ada satu orang pedagang yang setia menemati los di bagian belakang yaitu Rasmi. Warga Karangjawa ini berjualan gorengan dan minuman seperti teh dan kopi serta mie rebus.
"Sunyi, seperti yang kemarin-kemarin juga. Apalagi setelah banjir ini tambah sepi. Itu yang agak di depan kemarin kan jualan nasi kuning, sekarang tutup," ucap Rasmi.
Ia mengaku tetap bertahan karena tak punya tempat lain untuk berjualan. Sementara itu dirinya tak punya keterampilan lain.
Penghasilannya sehari rata-rata hanya sekitar Rp 50 ribu. Kalau ramai dapat Rp 100 ribu. Ia berjualan sejak waktu subuh sekitar pukul 04.00 Wita hingga sekitar pukul 11.00 Wita.
Janda dua anak ini sengaja mulai buka waktu subuh karena tempat berjualannya berdekatan dengan los pasar sayur yang buka sejak subuh. Karena itu ia tak berjualan hingga sore..
Ia menuturkan dibanding sebelumnya, penghasilan saat ini teramat sedikit. Dulu dirinya juga berjualan di lokasi yang sama ketika belum dibangun los yang permanen.
"Dulu tempat ini becek, sekarang bagus dan bersih tapi malah sepi. Tapi dulu meski tempatnya sederhana namun jualan ramai saja. Habis saja dua kilo tepung kalau bikin kue untok," sebutnya.
Ia berharap pemerintah membenahi los. Setidaknya menghilangkan tawing (pembatas) antarlos karena menyebabkan menghalangi pandangan pengunjung.
"Kalau bisa dilebarkan, misal dua los dijadikan satu. Soalnya ukuran los yang ada sempit, cuma sekitar 2x2 meter," sebut pedagang lainnya.
Masih adanya pedagang yang berjualan di kanan kiri bahu jalan menuju pasar setempat serta di halaman Bajuin Paza juga turut berpengaruh. Pasalnya pembeli akhirnya terhenti di luar karena semua barang yang dicari telah didapatkan.
(Tribunkalteng.com/idda royani)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kalteng/foto/bank/originals/beginilah-kondisi-los-pasar-rakyat-pelaihari-yang-lengang-dan-berdebu-11122.jpg)