Breaking News:

Kelangkaan Elpiji Kalsel

Kelangkaan Elpiji Kalsel, Penyidik Satpol PP Tala Segera Panggil Owner Pangkalan Elpiji Batam

Pelanggaran yang dilakukan salah satu pangkalan liquified petroleum gas (LPG) di Kecamatan Batuampar (Batam), Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan S

Penulis: Idda Royani | Editor: edi_nugroho
Tribunkalteng.com/idda royani
PPNS Sarpol PP Tala memeriksa saksi, orang yang menjual elpiji melon melampaui HET pada pangkalan di Kecamatan Batuampar. Pemeriksaan dilakukan Selasa kemarin. 

Editor: Edi Nugroho

TRIBUNKALTENG.COM, PELAIHARI - Kelangkaan elpiji Kalsel, pelanggaran yang dilakukan salah satu pangkalan liquified petroleum gas (LPG) di Kecamatan Batuampar (Batam), Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), terus berproses.

Hal tersebut turut menjadi perhatian masyarakat. Beberapa warga mendukung langkah tegas tersebut dan mesti dikakukan tanpa pandang bulu.

"Selain itu bagusnya langsung dibarengi solusinya. Misal kan pangkalan dikenai sanksi terus gak boleh jualan misalnya. Nah, kan harus ada solusinya supaya elpiji di lokasi setempat jangan sampai kosong," cetus Jani, warga Pelaihari, Kamis (25/2/2021).

Sementara itu, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan Damkar) Tala dalam waktu segera akan memanggil owner atau pemilik pangkalan di Batam tersebut.

Baca juga: Kelangkaan Elpiji Kalsel, Ungkap Kenakalan Pangkalan Elpiji, Satpol PP Tala Nyamar Jadi Pembeli

"Kemarin pemilik pangkalan itu tidak ada di tempat, sedang berada di luar daerah. Tapi informasinya sekarang sudah kembali," ucap Masaninor, PPNS Satpol PP dan Damkar Tala.

Pemilik pangkalan tersebut, jelasnya, akan diperiksa atau dimintai keterangannya terkait penjualan LPG subsidi kemasan 3 kilogram yang melampaui harga eceran tertinggi (HET) yakni hingga Rp 30 ribu per tabung. Padahal HET-nya hanya Rp 19 ribu.

Karenanya hal tersebut mesti dijelaskan oleh pemilik pangkalan elpiji tersebut, mengenai ihwal tindakan yang melanggar ketentuan tersebut.

Pada Selasa kemarin Masaninor telah memintai keterangan satu saksi yakni orang yang menjual elpiji seharga Rp 30 ribu ketika anggota Satpol PP Tala menyamar menjadi pembeli, Rabu pekan lalu.

"Ya tentu kan saksi menjual seharga itu, melampaui HET, atas perintah pemilik pangkalan. Karena itu si pemilik pangkalan juga penting kami periksa," tandasnya.

Hasil pemeriksaan tersebut, ucap Masaninor, dituangkan dalam berkas acara pemeriksaan (BAP). Selanjutnya akan diputuskan penjatuhan sanksi sesuai perbuatan yang dilakukan.

Wakil Bupati Tala Abdi Rahman yang juga ketua Tim Pengawasan dan Penertiban Distribusi Elpiji Subsidi beberapa hari lalu menegaskan tindakan tegas akan diberlakukan kepada pangkalan yang terbukti melakukan penyimpangan secara sengaja, baik dalam hal penyaluran maupun harga.

Penyaluran elpiji 3 kilogram bersifat tertutup yakni di pangkalan dan langsung kepada pengguna yang berhak yakni masyarakat miskin dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Elpiji subsidi yang juga kerap disebut elpiji melon tersebut terlarang dijual secara eceran di kios-kios/warung karena tata niaga elpiji ini tidak bersifat terbuka.
(Tribunkalteng.com/idda royani)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved