Breaking News:

Kelangkaan Elpiji Kalsel

Kelangkaan Elpiji Kalsel, Satpol PP Tala Sidik Pangkalan Ketahuan Jual Mahal Elpiji Melon

Kelangkaan elpiji kalsel, Personel Satuan Polisi Pamong Praja dam Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan Damkar) Kabupaten Tanahlaut (Tala),

Penulis: Idda Royani
Editor: edi_nugroho
Tribunkalteng.com/idda royani
Seorang warga membawa elpiji pink dari Posko Konversi di kantor Satpol PP dan Damkar Tala, Senin kemarin 

Editor: Edi Nugroho

TRIBUNKALTENG.COM, PELAIHARI - Kelangkaan elpiji kalsel, Personel Satuan Polisi Pamong Praja dam Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan Damkar) Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), terus bergerak ke lapangan menertibkan tata niaga liquified petroleum gas (LPG) kemasan tiga kilogram.

Semua pihak yang tak berhak menggunakan elpiji subsidi tersebut disasar, termasuk kios/orang yang menjualnya secara eceran. Sesuai ketentuan, pendistribusiannya secara tertutup yakni di pangkalan.

Pengguna elpiji subsidi yang juga kerap disebut elpiji melon tersebut adalah masyarakat miskin serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang beromzet Rp 25 juta ke bawah.

Penjualan elpiji melon secara eceran dilarang. Solusinya, agar para pedagang eceran tetap berlanjut usahanya, mereka diarahkan melakukan konversi dari elpiji melon ke elpiji nonsubsidi 5,5 kilogram (elpiji pink).

Baca juga: Kelangkaan Elpiji Kalsel, Polresta Banjarmasin Peringatkan Pedagang Nakal Lambungkan Harga

Senin pekan lalu Bupati Tala H Sukamta me-launching Posko Konversi di kantor Sarpol PP dan Damkar Tala di kawasan halaman Stadion Pertasi Kencana, Pelaihari. Catatan banjarmasinpost.co.id, hingga Senin kemarin jumlah total elpiji yang telah dilepas sebanyak 1.203 tabung.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satpol PP dan Damkar Tala HM Faried Widyatmoko mengatakan pada Rabu pekan lalu personelnya menangkap tangan satu pangkalan yang menjual elpiji melon jauh melampaui harga eceran tertinggi (HET).

Senin pagi kemarin pemilik pangkalan di wilayah Kecamatan Batuampar tersebut diperiksa oleh penyidik PNS setempat dan dilakukan pemberkasan.

"Pangkalan itu menjual elpiji melon seharga Rp 30 ribu. Padahal HET-nya hanya Rp 19 ribu per tabung," jelas Faried, Selasa (23/2/2021).

Ia menegaskan selanjutnya pangkalan tersebut bakal dijatuhi sanksi keras. "Guna memberi efek jera bagi pangkalan-pangkalan lainnya," tandasnya.

Sementara itu informasi diperoleh banjarmasinpost.co.id, ada juga pangkalan di Kota Pelaihari yang menjual tak sesuai HET namun tak seberapa yakni Rp 20 ribu. Hal itu dikarenakan pihak pangkalan kesulitan menyiapkan pecahan Rp 1.000 untuk kembalian.

Mengenai hal itu Faried mengatakan pihaknya masih memberi toleransi. "Saat ini kami mengejar pangkalan yang menjual elpiji melon seharga Rp 25 ribu lebih. Nanti secara bertahap kami akan menertibkan hingga sesuai HET," tandasnya.

Lebih lanjut ia menegaskan penjualan elpiji melon di kios/warung hingga kini tetap dilarang di Tala. Penegasannya ini menjawab narasi moderator grup sosmed yang menyampaikan kepada anggota grup bahwa harga elpiji melon di warung dibatasi paling tinggi Rp 24-35 ribu.

Narasi tersebut memunculkan opini seolah Pemkab Tala kembali mengizinkan penjualan elpiji melon secara eceran di kios-kios atau warung.
(Tribunkalteng.com/idda royani)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved