Breaking News:

Berita Tanahlaut

Dihantui Longsor Susulan, Puluhan KK di Panggungbaru Tala Kalsel Ngungsi ke Kebun Karet

Cuaca yang kembali kerap menumpahkan hujan sejak sekitar dua pekan terakhir memunculkan kerisauan sebagian warga Desa Panggungbaru, Kecamatan Pelaihar

Penulis: Idda Royani | Editor: edi_nugroho
Tribunkalteng.com/idda royani
Beginilah kondisi pondokan darurat warga Panggungbaru yang mengungsi di area kebun karet. 

Editor: Edi Nugroho

TRIBUNKALTENG.COM, PELAIHARI - Cuaca yang kembali kerap menumpahkan hujan sejak sekitar dua pekan terakhir memunculkan kerisauan sebagian warga Desa Panggungbaru, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel).

Hal itu dirasakan mereka yang bermukim di sekitar kaki Gunung Keramaian di wilayah RT 5 dan 4. Apalagi belakangan ini kadang turun hujan deras lagi disertai tiupan angin yang cukup kencang.

Rumah Warga Terdampak Banjir di Banjarmasin Sudah Mencapai 1.600 Buah

Kondisi itu membuat mereka takut karena merisaukan jika gunung longsor lagi saat hujan deras. Pasanya, pertengahan Januari 2021 lalu lereng gunung longsor cukup ekstrem dan merenggut satu nyawa warga setempat.

Sebanyak 52 kepala keluarga (KK) di dua lingkungan rukun tetangga tersebut mengungsi meski sifatnya situasional. Saat siang cuaca cerah, mereka kembali ke rumah dan saat malam ke tempat pengungsian.

Namun para kepala keluarga (laki-laki) jika malam kondis cuaca cerah, tetap bertahan di rumah. "Kecuali kalau malam hujam deras, kami bergegas ke pengungsian," ucap Ahmad Rizal Fahmi, Jumat (5/2/2021).

Ketua RT 5 ini menuturkan lingkungannya merupakan permukiman terdekat dengan kaki Gunung Keramaian. Dirinya juga membikin pondok sederhana di lahan kebun karet milik warga sekitar berjarak sekitar setengah kilometer dari rumah.

Data pada pihak Desa Panggungbaru, tercatat 52 KK warga RT 5 dan 4 yang mengungsi. Sebagian besar mengungsi di kebun karet dan sekitarnya yakni 40 KK dan 12 KK lainnya di induk kampung seperti menempati ruang belakang kantor desa.

Pantauan banjarmasinpost.co.id, mereka yang mengungsi di lahan kebun karet mebikin pondokan sederhana seperti dari papan partisi maupun terpal. Ukurannya sekitar 3x4 meter.

Jumlahnya sekitar tujuh unit. Tiap pondok umumnya dihuni satu kepala keluarga antara empat hingga lima jiwa. Namun ada juga yang dihuni 2 KK. Selebihnya, mengungsi di rumah warga sekitar.

Lahan kebun karet tersebut milik warga setempat yakni Nafsiah. "Kalau saya di lahan kebun karet milik H Juhran yang letanya bersebelahan saja. Alhamdulilah kami diizinkan ngungsi sementara dan bikin pondok darurat," ucap Fahmi.

Ia mengatakan kondisi Gunung Keramaian masih merisaukan karena hujan mulai kerap turun lagi dan kadang cukup deras disertai angin. Karena itu sementara waktu pihaknya memilih mengungsi.

Warga RT 5 lainya, Difiatun, yang juga mengungsi di lokasi sama mengaku masih takut bermalam di rumah. "Paling siang saja balik ke rumah, mencuci pakaian," paparnya.

Di pondokan darurat di kebun karet, ia tinggal bersama tiga orang anaknya. Suaminya jika kondisi cerah saat malam tidur di rumah.

Meski kondisi di tempat pengungsian serba terbatas, namun tak ada pilihan lain kecuali bertahan hingga menunggu normalnya cuaca. "Apalagi saya masih punya anak kecil, laki-laki usia tiga tahun. Kalau pulang ke rumah terus misal ada apa-apa, kan susah bergegas perginya ke tempat aman," tandasnya. (Tribunkalteng.com/idda royani)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved