Breaking News:

Berita Banjarmasin

Petugas BKSDA Kalteng Pancing Buaya Pemangsa Nenek Bahriah Pakai Dua Ekor Bebek

Serangan buaya ganas Sungai Mentaya, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah terhadap Nenek Bahriah (74) warga Desa Pelangsian Kecamat

Tribunkalteng.com / faturahman
Komandan Jaga BKSDA Kalteng, Pos Sampit, Muriansyah, Kades Pelangsian Ismail dan Petugas Polsek Ketapang, dan warga saat memantau TKP penyerangan buaya terhadap Nenek Bahriah di Pinggiran Sungai sekitar Pelabuhan Pelangsian. 

Editor: Edi Nugroho

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT - Serangan buaya ganas Sungai Mentaya, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah terhadap Nenek Bahriah (74) warga Desa Pelangsian Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Jumat (1/1/2021) malam mendapat perhatian Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat.

Petugas akan melakukan penangkapan buaya yang menyerang Nenek Bahriah yang tinggal di bantaran Sungai Mentaya sekitar Pelabuhan Pelangsian, yang telah mengakibatkan lengan kiri Nenek Bahriah yang saat itu tinggal sendirian di rumahnya dan diserang buaya saat melakukan aktifitas di Sungai Mentaya,l.

Akibat serangan buaya tersebut, lengan kiri Nenek Bahriah putus di makan buaya, sedangkan, kakinya pun patah karena berusaha melawan buaya besar yang berusaha membawanya masuk ke dalam sungai saat air Sungai Mentaya dalam keadaan pasang saa kejadian serangan tersebut.

Baca juga: Tenaga Kesehatan Terpapar Covid-19, Puskesmas Bantuil Ditutup Sepekan

Hingga, Minggu (3/1/2021) Nenek Bahriah masih dirawat di Rumah Sakit Murjani Sampit untuk mendapatkan perawatan intensif pengobatab kakinya yang patah serta lengan kirinya yang kini buntung akibat diserang buaya."Beliau kondisinya mulai membaik dalam perawatan, kami terus ingatkan warga tidak beraktifitas di Sungai Mentaya sejak magrib hingga subuh, karena rawan serangan buaya," ujar Kades Pelangsian, Ismail.

Komandan Jaga BKSDA Kalteng, pos Sampit, Muriansyah, mengatakan, pihaknya sudah memantau lokasi serangan buaya tersebut dan segera melakukan pemasangan umpan untuk menangkap buaya pemangsa Nenek Bahriah tersebut dengan menggunakan dua umpan bebek yang diikatkan dengan tali," ujarnya.

Menurut dia, penangkapan menggunakan kurungan besi tidak memungkinan setelah melihat TKP sehingga penangkapan menggunakan alat pancing jerat ."Saat Buaya makan umpan akan terpancing sehingga ter jerat. Selanjutnya di tarik ke darat, di ikat bagian rahang, di tutup mata, terus di ikat kaki-kakinya dengan cara ditunggangi," ujarnya.

Dia mengatakan, upaya pemasangan pancing dua ekor bebek untuk buaya bisa kembali datang ke TKP penyerangan juga dengan dibantu pawang buaya untuk memanggilnya, biasanya menunggu sampai dua minggu buaya diharapkan datang memakan pancingan bebek tersebut. "Kami berharap paling lama sekitar dua minggu semoga buaya pemangsa Nenek Bahriah tersebut bisa tertangkap," ujarnya. (Tribunkalteng.com / faturahman).

Editor: edi_nugroho
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved